“Kamu masih bisa mundur sekarang,” bisik Prana serak dan rendah, “kalau tidak, aku gak akan melepaskanmu.”Wajah Prana semakin mengikis jarak hingga Shanum bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa permukaan kulitnya. Prana memiringkan kepalanya sedikit, sebuah gestur predator yang sedang mengunci mangsanya. Sorot matanya yang biasanya tenang kini berubah menggelap, pekat, dan membakar.Seluruh sensor di tubuh Shanum beradu—antara naluri untuk lari dan keinginan untuk menarik pria itu lebih dekat.“Mas...”Namun, tepat sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan, Prana kembali berbisik di depan bibirnya. “Ternyata, kamu memutuskan untuk tidak mundur.”Kedua mata Shanum berubah sayu. Lidahnya kelu, hingga tak ada satu kata pun yang mampu lolos dari tenggorokannya yang kering.“Kalau begitu… ayo kita tanding,” lanjut Prana tiba-tiba menarik diri. “Siapa yang lebih dulu sampai ke rumah, dia yang menang.”Ia menyeringai miring, memperlihatkan wajah geli setelah berhasil membua
Read more