Siska masih diam menatap layar ponselnya yang terus-menerus bergetar heboh. Antara minta dibanting atau diangkat itu teleponnya.Belum sempat menggeser tombol hijau, panggilan itu mati, lalu mendadak tersambung lagi. Begitu terus sampai lima kali berturut-turut layaknya rentenir yang menagih utang keliling."Siapa sih, Siska? Ganggu kesenangan orang saja," gerutu Dina sembari menyeka sisa cairan Agus di pahanya menggunakan ujung sprei.“Eeee, Non nanti kotor itu. Waduh!”“Biarin, kan bisa dicuci sama Mas Agus.” Dina mengedip genit.“Busyetr sue bener ini bibir anak pejabat,” pikir Agus. Terus melihat Siska. “Punya utang kali, Non. Sama siapa? Sini biar tak bayarin, toh.”"Bentar, bentar deh. Ini tuh, hah!" Siska melotot, matanya yang siap tidur mendadak segar benderang.Agus yang masih telentang sambil memegangi pinggangnya yang terasa mau copot ikut menoleh. Masalahnya, suara Siska itu cemprengnya bukan main. "Kenapa toh, Non? Nyonya Besar pulang? Waduh, kalau Nyonya yang telepon, b
Last Updated : 2026-06-09 Read more