Kilau lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit di kawasan Marina Bay, Singapura, memantul sempurna pada dinding kaca tebal sebuah griya tawang eksklusif yang bertengger di lantai empat puluh. Di dalam ruangan bernuansa modern minimalis yang dilingkupi kesunyian tersebut, aroma kopi hitam yang pekat menguar, berbaur dengan hawa dingin dari pendingin ruangan yang berembus konstan. Di sinilah, ribuan mil dari pengapnya sel isolasi Blok C Jakarta, pusat kendali atas runtuhnya dinasti Sudirman Group dioperasikan tanpa suara. Ganza duduk tegak di hadapan tiga layar monitor berspesifikasi militer yang menampilkan grafik likuidasi aset, matriks enkripsi data, serta pembekuan akun-akun bayangan milik Viko. Jemari kokohnya bergerak dengan ritme yang teramat konstan di atas papan tik mekanis, mengeksekusi perintah akhir untuk mengunci sisa sirkulasi modal yang mencoba keluar dari bursa Jakarta pagi ini. Di mata publik, Ganza hanyalah sahabat sekaligus pengelola bisnis platform digi
Leer más