LOGINAkhirnya waktu bimbingan tiba. Lantai ubin lorong gedung fakultas yang dingin itu memantulkan bayanganku yang sekarang tampak jauh lebih mengancam. Aku menyandarkan punggung ke pintu kayu jati ruangan Monica, melipat lengan di depan dada, dan membiarkan otot-otot lenganku menegang hingga nyaris merobek kain kemeja.Dari kejauhan, sosok wanita yang kukenal muncul di ujung koridor.Langkah kaki Monica yang biasanya tegas dan penuh wibawa kini terdengar ragu. Dia berjalan lambat, kepalanya tertunduk seolah sedang menghitung garis-garis ubin di bawah kakinya.Jarak kami masih cukup jauh, namun aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu melalui sensor kacamata yang terselubung di wajahku. Begitu dia mendongak dan menyadari kehadiranku, langkahnya terhenti sejenak. Wajah ovalnya memucat, lalu berubah merah padam dalam hitungan detik."K-kau... sudah di sini, Bima?"Aku tidak menjawab, hanya menatapnya d
Tangan kasarku mencengkeram rahang Sarah, memaksanya menatap lurus ke mataku yang menyala oleh haus kuasa. Di bawah lampu operasi yang menyilaukan, kulit putihnya yang polos tampak berkilau oleh peluh dan sisa air mata. Sabuk-sabuk kulit yang mengikat tangan dan kakinya berderit setiap kali dia menggeliat pasrah. "Lihat dirimu, Sarah. Dokter ahli bedah saraf yang terhormat, sekarang merintih di bawah kakiku seperti gundik murahan." Sarah menggelengkan kepala, rambutnya yang berantakan menyapu meja logam yang dingin. "Bukan... bukan gundik... pelayanmu, Tuan. Aku pelayanmu." "Pelayan yang butuh diperbaiki, sepertinya. Kau terlalu banyak bicara tadi di klinik." Aku melepaskan rahangnya dan beralih ke antara kedua pahanya yang terikat lebar. Liangnya yang basah berdenyut-denyut, seolah-olah memanggilku untuk segera menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Tanpa pemanasan lebih lanjut, aku menghantamkan kejantananku yang sudah sekeras baja ke dalam dirinya dengan satu sentakan brutal.
Kasur lantai yang tipis dan berbau apek itu terasa keras di bawah punggungku, namun pikiranku terlalu liar untuk sekadar terlelap meski lelah dan kantuk memberatkan mataku setelah pemeriksaan di klinik Sarah. Aku meraih kacamata bingkai emas itu dari samping bantal, membiarkan kegelapan plastik hitamnya menelan pandanganku. Dingin logamnya menyentuh pelipis, lalu dalam sekejap, duniaku meledak menjadi hamparan putih tak terbatas."Selamat datang kembali, Tuanku yang perkasa."Eva sudah berdiri di sana, menungguku dengan gaun sutra tipis yang nyaris tak menutupi apa pun. Dia menerjang maju, melingkarkan lengan halusnya di leherku dan membiarkan tubuh mungilnya menempel erat. Napasnya yang beraroma vanila menggelitik telingaku.Aku membalas pelukannya sejenak, mengecup bibirnya yang merah merekah dengan lumatan singkat sebelum mendorongnya menjauh sedikit. "Eva, aktifkan mode virtual untuk Sarah. Aku ingin bermain dengannya sekarang."Eva mengerutkan dahi, alis tipisnya terangkat semen
Sarah mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membiarkan aroma parfum melati yang kuat memenuhi rongga hidungku. Jemarinya yang dingin merayap dari bahuku menuju kerah kemeja, lalu berhenti tepat di bawah daguku. "Saya bisa menawarkan diagnosa pribadi, Pak Bima. Hanya kita berdua." Aku mengernyitkan kening, menatap matanya yang bersembunyi di balik lensa kacamata tipis itu. "Diagnosa pribadi? Bukankah dari tadi kita sudah bicara secara pribadi?" Sarah melirik ke sudut atas ruangan, ke arah sebuah lensa kamera kecil yang tersembunyi di dekat ventilasi. Suaranya merendah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar, namun sarat dengan provokasi. "Maksud saya, jika Pak Bima ingin saya memeriksa tanpa pengawasan kamera. Saya bisa mematikan rekaman suara dan visual di ruangan ini sekarang juga." Aku sedikit melongo, menatap lampu indikator merah yang masih berkedip di langit-langit. "Klinik semewah ini punya standar oper
Aroma disinfektan mahal yang bercampur dengan wangi pengharum ruangan otomatis menusuk hidungku begitu aku melangkah melewati pintu kaca otomatis. Klinik ini bukan sekadar tempat praktik dokter biasa. Lantai marmernya yang mengilat memantulkan cahaya lampu gantung kristal di langit-langit, memberikan kesan eksklusif yang membuat siapa pun dengan dompet tipis akan merasa terintimidasi. Sarah benar-benar berada di liga yang berbeda jika dibandingkan dengan puskesmas atau rumah sakit umum tempatku biasanya berobat. Aku berjalan menuju meja resepsionis, merasakan setiap pasang mata di ruangan itu perlahan beralih ke arahku. Aku bisa merasakannya—tarikan gravitasi yang sekarang terpancar dari tubuhku. Dulu, aku adalah gumpalan lemak yang diabaikan dunia. Sekarang, setiap langkahku terasa berat dan berwibawa. Bahuku yang lebar hampir memenuhi ruang di depan meja administrasi. "Atas
Matahari sore menyengat kulit pundakku yang sekarang terasa lebih lebar dan kokoh. Aku menyandar di bangku taman kampus, menyilangkan kaki sambil mengawasi Rahmi yang sedang berjalan di koridor seberang bersama teman-temannya. Gadis itu tidak menyadari keberadaanku, tapi mataku tidak bisa lepas dari perubahan drastis pada penampilannya. "Eva, perhatikan Rahmi. Ada yang berbeda dengan caranya membawa diri hari ini." Suara Eva berdenting jernih di dalam benakku, diiringi tawa kecil yang menggoda. "Tuan Bima sangat teliti. Dia mulai kehilangan rasa malunya, perlahan tapi pasti. Bukankah itu yang Tuan inginkan?" Aku memperhatikan bagaimana Rahmi mengenakan kemeja putih yang sengaja dibuka dua kancing teratasnya, memperlihatkan lengkungan dadanya yang sekarang tampak jauh lebih penuh dan sesak. Setiap kali dia







