Sore itu, selepas semua kejadian di kantor polisi, Nanang mengantar Lina pulang. Langit mulai meremang, semburat jingga memudar di antara awan kelabu. Angin sore berhembus membawa aroma tanah basah dan dedaunan.Lina duduk di boncengan motor Nanang, memeluk pinggangnya erat, kepalanya bersandar di punggung pemuda itu."Mas... aku capek banget, sumpah. Tapi aku seneng," gumamnya di sela deru angin.Nanang melirik dari spion, melihat senyum kecil di wajah gadis itu. "Seneng hampir bikin Mas masuk penjara?"Lina tertawa kecil. "ih, kalau aku nggak datang tadi, Mas udah beneran tidur di balik jeruji tuh.""Ya tapi, ngomongnya jangan terlalu frontalnya dong, Dek..." Nanang geleng kepala, mengingat momen Lina berteriak di kantor polisi bahwa sempak itu miliknya."Mas malu banget sumpah tadi, Pak Polisi aja nyengir nahan ketawa."Lina malah ngakak. "Ya mau gimana, Mas disalahin mulu sih. Aku bela dong. Lagian, lucu aja liat muka Mas panik."Nanang menepuk helm Lina pelan. "Dasar kamu tuh, tap
Read more