Suara itu terdengar perlahan. Awalnya nyaris tak terdengar, persis seperti gesekan benda logam yang disengaja agar tak menarik perhatian. Namun, Kania adalah orang pertama yang menangkapnya. Matanya langsung terbuka lebar, seluruh tubuhnya menegang kaku. Naluri bertahan hidupnya bergerak jauh lebih cepat dibandingkan akal pikirannya. "Rivan..." bisiknya parau. Sementara itu, Rivan sudah lebih dulu berhenti bergerak. Sekejap saja, seluruh ekspresi di wajahnya berubah drastis. Sisa kelembutan dan godaan yang ada lenyap tanpa bekas. Kini yang tersisa hanyalah tatapan yang dingin, tajam, dan mematikan. Ia mengangkat satu jari ke depan bibir, memberi isyarat tegas agar Kania tetap diam. Suara itu kembali terdengar. Kali ini makin jelas.Langkah kaki.Dan jumlahnya lebih dari satu orang. Napas Kania langsung tertahan. Jantungnya berpacu kencang bukan la
Last Updated : 2026-04-27 Read more