Udara di dalam helikopter berubah drastis. Bukan karena suhu ruangan, melainkan karena sesuatu yang tak kasat mata. Sesuatu yang perlahan menekan dada Kania hingga napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Selama beberapa menit terakhir, Rivan tidak banyak bersuara. Tangannya masih erat menggenggam tangan Kania, tetapi ada perbedaan yang terasa jelas. Genggamannya kini terasa lebih tenang, lebih mantap, seolah lelaki itu telah sampai pada titik penantiannya selama ini. “Kita hampir sampai,” ucapnya pelan. Nada suaranya tak lagi terdengar seperti orang yang sedang dikejar bahaya. Sebaliknya, nada itu milik seseorang yang baru saja pulang. Kania menatap ke luar jendela. Di bawah sana terbentang kegelapan sempurna. Tak ada cahaya kota, tak ada tanda-tanda kehidupan, hanya hamparan hutan lebat yang seolah siap menelan siapa saja yang berani masuk. “Ini bukan wilayah Zurich,” gumam Kania.
Last Updated : 2026-04-24 Read more