Setelah Salva mengetuk pintu ruangan, tak butuh waktu lama hingga pintu itu terbuka dari dalam. Wajah Juna lebih dulu muncul, sedikit kaku, tapi tetap mencoba terlihat tenang.“Masuk, cucuku. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” sambut Satya dengan senyum lebar, suaranya terdengar hangat, berbeda jauh dari sosok tegas yang kemarin sempat Juna lihat.“Ya, Kek,” jawab Juna singkat.Ia melangkah masuk, lalu duduk setelah dipersilakan. Meski berusaha santai, matanya tetap tidak bisa berhenti mengamati ruangan itu.Satya memperhatikan itu, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mulai berbicara.“Kakek sudah memikirkan sesuatu untukmu,” ucapnya pelan. “Kamu harus kuliah.”Juna langsung menoleh.“Kamu tidak hanya akan belajar teori, tapi juga memahami La Grande. Pelan-pelan saja. Kakek tidak mau kamu langsung terbebani,” lanjut Satya.“Kuliah itu bukan cuma soal gelar, Juna,” ucap Satya pelan, menatapnya
Read more