Salva menghentikan suapannya. Perlahan, ia meletakkan sendok ke atas piring sambil menatap Juna cukup lama. Di antara mereka sempat tercipta keheningan kecil, hanya diisi suara pelanggan lain, bunyi denting mangkuk, dan uap kuah bakso yang masih mengepul hangat.“Saya tahu ini tidak gampang, Tuan,” ucap Salva akhirnya. Nada suaranya melembut, namun tetap terdengar tegas.“Tapi saya yakin, dulu pun Tuan Satya pasti pernah ada di posisi yang sama. Capek. Takut gagal. Bahkan mungkin ingin menyerah.” “Bedanya,” lanjut Salva pelan, “beliau tetap bertahan.”Juna terdiam mendengarkan.Ia menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Juna lurus-lurus.“Tuan bisa bayangkan kalau seandainya kalau La Grande jatuh ke tangan orang yang salah, orang yang tamak dan rakus, yang hancur bukan cuma nama perusahaan. Ada ribuan orang yang menggantungkan hidup di sana.”Tatapan Salva perlahan berubah serius. Ia tersenyum kecil.Sementar
Read more