LOGINSalva menatap pergelangan tangannya sejenak, memperhatikan tangan kekar yang sejak tadi menyentuh kulit tangannya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Senyum tipis sempat muncul di wajahnya, cepat dan hampir tak terlihat, sebelum ia kembali memasang wajah datarnya seperti biasa.“Tuan… maaf, bisa kita berjalan sedikit lebih pelan?” ucapnya tenang. “Sepertinya kita sudah cukup jauh dari hotel.”Juna baru menyadarinya.Langkahnya terhenti.Ia menoleh,Salva menghentikan suapannya. Perlahan, ia meletakkan sendok ke atas piring sambil menatap Juna cukup lama. Di antara mereka sempat tercipta keheningan kecil, hanya diisi suara pelanggan lain, bunyi denting mangkuk, dan uap kuah bakso yang masih mengepul hangat.“Saya tahu ini tidak gampang, Tuan,” ucap Salva akhirnya. Nada suaranya melembut, namun tetap terdengar tegas.“Tapi saya yakin, dulu pun Tuan Satya pasti pernah ada di posisi yang sama. Capek. Takut gagal. Bahkan mungkin ingin menyerah.” “Bedanya,” lanjut Salva pelan, “beliau tetap bertahan.”Juna terdiam mendengarkan.Ia menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Juna lurus-lurus.“Tuan bisa bayangkan kalau seandainya kalau La Grande jatuh ke tangan orang yang salah, orang yang tamak dan rakus, yang hancur bukan cuma nama perusahaan. Ada ribuan orang yang menggantungkan hidup di sana.”Tatapan Salva perlahan berubah serius. Ia tersenyum kecil.Sementar
Salva merebahkan tubuhnya di atas kasur hotel yang empuk sambil mengembuskan napas panjang. Kakinya terasa pegal setelah seharian berkeliling menemui para pemilik ruko di sekitar La Grande Malang bersama tim operasional. Namun anehnya rasa lelah itu bukan hal yang paling mengganggu pikirannya malam ini.Yang terus terbayang justru tatapan Juna pada Aleya saat rapat tadi siang. Juna terlihat tenang mengamati Salva.Dan entah kenapa membuat dada Salva terasa tidak nyaman.“Ingat, Sal… gak baik terlalu kepo sama Kehidupan pribadi Bos. Tetap professional Salvarea!” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit kamar hotel.Ia menutup wajahnya dengan bantal beberapa detik karena silaunya lampu yang berada pas di atas wajahnya, sebelum akhirnya meraih ponsel di samping ranjang.Belum sempat ia membuka apa pun layar ponselnya sudah lebih dulu menyala. Nama “Tuan Juna” muncul besar di layar.Salva langsung memejamkan mata pasrah. “Assshhhh
Pagi itu, jarum jam di dinding ruang rapat Hotel La Grande Malang sudah menunjukkan pukul 09.20.Ruangan itu terasa dingin karena pendingin udara yang menyala maksimal, namun kegelisahan yang terpancar dari Salva justru membuat suasananya terasa semakin panas.Sudah dua puluh menit berlalu dan pihak perusahaan binatu milik Gala belum juga muncul.Juna sendiri masih duduk tenang di kursinya sambil membalik halaman demi halaman berkas kerja sama vendor dengan ritme santai. Wajahnya nyaris tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.Baginya, menunggu bukanlah hal baru.Dulu, saat masih menjadi sopir taksi, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu penumpang keluar dari mall atau hotel tanpa kepastian akan dibayar mahal. Jadi keterlambatan seperti ini belum cukup untuk memancing emosinya.Berbeda dengan Salva. Wanita itu sejak tadi terus melirik jam tangannya. Jemarinya beberapa kali mengetuk tablet di pangkuan
Juna menyesap kopi hitamnya perlahan. Aroma pahit yang kuat langsung memenuhi inderanya, sementara matanya masih terpaku pada lembaran laporan kerja sama vendor yang sejak tadi ia baca tanpa jeda. Alisnya sedikit berkerut. “Jadi…” gumamnya pelan sambil membalik halaman laporan itu. “Kenapa Kakek repot-repot membawa usaha milik Gala masuk ke jaringan hotel ini?” Ia mengangkat pandangannya sebentar. “Padahal menurutku, di kota sebesar ini pasti banyak jasa binatu yang jauh lebih profesional kalau kita benar-benar membuka penawaran mitra secara terbuka.” Tatapannya kemudian beralih pada Salva yang sedang merapikan cangkir di meja kecil dekat sofa. Salva mengangguk kecil, tanda setuju dengan ucapan itu. Namun tangannya tetap sibuk membenarkan posisi sendok dan tatakan cangkir yang sebenarnya sudah sangat rapi. “Kembali lagi…” ucapnya tenang. “Dalam dunia bisnis, semuanya tidak selalu soal kualitas atau efektivitas, Tu
Juna terpaku beberapa detik, matanya terkunci pada manik mata Salva yang terlihat jernih namun penuh dengan kekhawatiran. Tatapan itu terlalu dekat, hingga membuat pikirannya perlahan kosong.Hingga akhirnya, Juna pun menyadari, bahwa ia tidka boleh seperti ini. Perlahan, Juna menjauhkan wajahnya.Ia memutus kontak mata itu sebelum akal sehatnya benar-benar hilang.Juna berdehem pelan, mencoba mengembalikan ketenangan dan wibawa yang sempat goyah hanya karena jarak beberapa senti.“Aku tidak apa-apa/ tenang saja,” ucapnya akhirnya. Suaranya sedikit serak. “Mungkin cuma kurang tidur.”Salva baru tersadar bahwa posisi mereka tadi terlalu dekat.Seketika ia memundurkan tubuhnya, kembali duduk dengan jarak yang lebih aman. Wajahnya merona cukup jelas di bawah cahaya redup mobil, sementara tangannya buru-buru merapikan tablet di pangkuannya hanya untuk mengalihkan rasa gugup.“Maaf, Tuan,” ucapnya pelan. “Saya hanya khawatir
Malam itu, kemegahan penthouse milik Satya terasa begitu tenang, namun di saat yang sama juga menyesakkan.Juna duduk di sofa kulit premium yang terlalu empuk untuk ukuran hidupnya selama ini. Kenyamanan seperti itu bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.Di hadapan mereka, lampu-lampu kota berkelip indah dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Kota itu terlihat kecil dari atas sana, seolah seluruh dunia berada di bawah kaki keluarga Wiwaha.Satya menyesap teh hangatnya perlahan sebelum akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka setelah pertemuan panas di ruang kerja sore tadi.“Jangan pernah terpikir untuk kembali dengannya, Cucuku,” ucap Satya tenang. “Apa jaminannya dia akan berubah?”Juna menoleh ke arah kakeknya. Kalimat itu tepat menghujam ulu hatinya. Sejenak, ia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena sempat terlintas bayangan masa lalu saat menatap Aleya tadi. Ada bagian dari dirinya yang masi







