مشاركة

23. MUNDUR

مؤلف: Ahgisa
last update تاريخ النشر: 2026-05-13 22:00:00

Salva merebahkan tubuhnya di atas kasur hotel yang empuk sambil mengembuskan napas panjang. Kakinya terasa pegal setelah seharian berkeliling menemui para pemilik ruko di sekitar La Grande Malang bersama tim operasional. Namun anehnya rasa lelah itu bukan hal yang paling mengganggu pikirannya malam ini.

Yang terus terbayang justru tatapan Juna pada Aleya saat rapat tadi siang. Juna terlihat tenang mengamati Salva.

Dan entah kenapa membuat dada Salva terasa tidak nyaman.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   27. KEMEWAHAN UNTUK ALEYA

    Aleya mengerang pelan, merasakan sisa sentuhan Raga yang jauh lebih kasar dan menuntut dibanding biasanya. Rasa frustrasi pria itu benar-benar tersalurkan lewat gairah yang membabi buta malam ini.Setelah erangan panjangan, semuanya berakhir. Tampak ada guratan puas dalam wajah Aleya, namun lain pada wajah Raga.Pria itu langsung bangkit dari ranjang tanpa banyak bicara. Ia meraih celananya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan menuju sudut ruangan dengan langkah berat. Aleya yang masih berbaring di atas kasur hanya memperhatikannya diam-diam sambil mengatur napasnya yang belum sepenuhnya stabil.Lampu kamar yang temaram membuat siluet tubuh pria paruh baya itu terlihat semakin tajam dan maskulin.Raga mengambil sebatang rokok dari kotak hitam di meja kecil dekat jendela, lalu menyalakannya dengan gerakan cepat. Bara merah kecil menyala di ujung rokok, disusul kepulan asap yang perlahan memenuhi udara kamar.Aleya memperhatikan pria itu beberapa detik. Rahangnya terlihat mengeras.

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   26. MELAWAN

    “Pukul!” Raga justru tertawa kecil sambil membuka kedua tangannya lebar, sengaja memancing.“Ayo, pukul! Kakakku memang benar-benar bodoh.” Tatapannya turun naik memperhatikan Juna dengan sinis.“Bagaimana bisa dia mempercayai pria tanpa pendidikan sepertimu untuk memegang La Grande? Apa pria tua itu sudah mulai gila?”Raga sudah hampir melayangkan tinjunya saat Salva berkata setengah berteriak, "Tuan, tenang, Tuan!”Ia buru-buru maju setengah langkah, namun langsung ragu sendiri.Dua pria di depannya sama-sama bertubuh besar, sama-sama sedang emosi, dan Salva benar-benar tidak tahu harus menarik siapa lebih dulu kalau keadaan berubah menjadi kacau.Juna masih berdiri diam. Tatapan matanya menggelap, memancarkan aura mengintimidasi yang membuat atmosfer ruang rapat seketika terasa jauh lebih dingin. Alih-alih memukul, perlahan kepalan tangan Juna justru mengendur.Urat-urat di lengan kekarnya yang tadi menegang perlahan

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   25. HINAAN RAGA

    Raga menghentikan langkahnya tepat di ujung koridor remang-remang menuju area kamar VVIP tempatnya menginap malam itu.Awalnya, ia hanya ingin kembali ke kamar sambil memikirkan langkah berikutnya untuk menjatuhkan Juna di proyek Malang. Baginya, peluang mantan sopir taksi itu untuk berhasil memang kecil. Namun justru karena itulah Raga tidak boleh lengah.Ia terlalu berpengalaman untuk meremehkan orang yang sedang terdesak dan instingnya mengatakan keponakannya itu cukup pintar.Namun tepat saat ia hendak melanjutkan langkah, pandangannya menangkap sesuatu yang membuat sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia tersenyum licik.Di ujung Lorong Aleya sedang mencium Juna dan bukan sekadar sentuhan singkat. Dari jauh pun semua orang pasti tahu, bahwa wanita itu melumat bibir Juna dengan penuh Hasrat.Raga langsung berhenti. Matanya menyipit penuh kepuasan.“Tidak salah aku menjadikan wanita itu umpan…” gumamnya lirih sambil tertawa sini

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   24. CIUMAN ALEYA

    Salva menghentikan suapannya. Perlahan, ia meletakkan sendok ke atas piring sambil menatap Juna cukup lama. Di antara mereka sempat tercipta keheningan kecil, hanya diisi suara pelanggan lain, bunyi denting mangkuk, dan uap kuah bakso yang masih mengepul hangat.“Saya tahu ini tidak gampang, Tuan,” ucap Salva akhirnya. Nada suaranya melembut, namun tetap terdengar tegas.“Tapi saya yakin, dulu pun Tuan Satya pasti pernah ada di posisi yang sama. Capek. Takut gagal. Bahkan mungkin ingin menyerah.” “Bedanya,” lanjut Salva pelan, “beliau tetap bertahan.”Juna terdiam mendengarkan.Ia menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Juna lurus-lurus.“Tuan bisa bayangkan kalau seandainya kalau La Grande jatuh ke tangan orang yang salah, orang yang tamak dan rakus, yang hancur bukan cuma nama perusahaan. Ada ribuan orang yang menggantungkan hidup di sana.”Tatapan Salva perlahan berubah serius. Ia tersenyum kecil.Sementar

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   23. MUNDUR

    Salva merebahkan tubuhnya di atas kasur hotel yang empuk sambil mengembuskan napas panjang. Kakinya terasa pegal setelah seharian berkeliling menemui para pemilik ruko di sekitar La Grande Malang bersama tim operasional. Namun anehnya rasa lelah itu bukan hal yang paling mengganggu pikirannya malam ini.Yang terus terbayang justru tatapan Juna pada Aleya saat rapat tadi siang. Juna terlihat tenang mengamati Salva.Dan entah kenapa membuat dada Salva terasa tidak nyaman.“Ingat, Sal… gak baik terlalu kepo sama Kehidupan pribadi Bos. Tetap professional Salvarea!” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit kamar hotel.Ia menutup wajahnya dengan bantal beberapa detik karena silaunya lampu yang berada pas di atas wajahnya, sebelum akhirnya meraih ponsel di samping ranjang.Belum sempat ia membuka apa pun layar ponselnya sudah lebih dulu menyala. Nama “Tuan Juna” muncul besar di layar.Salva langsung memejamkan mata pasrah. “Assshhhh

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   22. MANUSIA PALING SIBUK

    Pagi itu, jarum jam di dinding ruang rapat Hotel La Grande Malang sudah menunjukkan pukul 09.20.Ruangan itu terasa dingin karena pendingin udara yang menyala maksimal, namun kegelisahan yang terpancar dari Salva justru membuat suasananya terasa semakin panas.Sudah dua puluh menit berlalu dan pihak perusahaan binatu milik Gala belum juga muncul.Juna sendiri masih duduk tenang di kursinya sambil membalik halaman demi halaman berkas kerja sama vendor dengan ritme santai. Wajahnya nyaris tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.Baginya, menunggu bukanlah hal baru.Dulu, saat masih menjadi sopir taksi, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu penumpang keluar dari mall atau hotel tanpa kepastian akan dibayar mahal. Jadi keterlambatan seperti ini belum cukup untuk memancing emosinya.Berbeda dengan Salva. Wanita itu sejak tadi terus melirik jam tangannya. Jemarinya beberapa kali mengetuk tablet di pangkuan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status