Li Mingzi mengangkat bahu, ekspresinya polos. "Itu bukan urusanku. Orang-orang di sana hanya kenal dengan Ruan Yin, kok."Bai Yumeng menyipitkan mata, seolah mencoba membaca kebohongan di balik wajah tenang pria itu. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya yang hitam berkilau."Kau pikir aku bodoh?" bisiknya tajam.Li Mingzi tersenyum lebar, menggaruk kepala dengan gerakan canggung. "Sungguh! Mereka bahkan tidak tahu namaku."Bai Yumeng terdiam lama. Rahangnya mengeras. Akhirnya ia mendengus kesal, lalu berbalik memunggungi Li Mingzi."Lupakan," ujarnya dingin. "Tapi ingat baik-baik. Dua hari lagi temani aku ke krematorium untuk menaruh abu ayahku. Itu sebagai gantinya malam ini."Li Mingzi mengangguk cepat. "Baik, tidak masalah."Bai Yumeng melangkah menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Mesin menyala, lampu belakang menyala merah, lalu mobil itu meluncur keluar dari area gedung.Begitu suara mesin menjauh, Luo Han muncul dari bayang-bayang di samping pintu masuk. I
Dernière mise à jour : 2026-05-06 Read More