Keluar dari ruangan, Karin tersenyum tapi air matanya menetes. “Ngapain aku nangisin dia?” gerutu Karin sambil mengusap air matanya yang menetes tanpa tahu malu. Mereka memang tidak pacaran, hubungan mereka memang tidak jelas, tidak cinta hanya sekedar saling memanfaatkan, lagipula Arlan itu Pamannya. Bodohnya Karin berpikir kalau ungkapan cinta dari Arlan itu memang benar karena cinta. “Hahahah bodoh,” lanjut Karin bersedih. Karin menonaktifkan ponselnya setelah itu, ia sudah tidak peduli gosip yang beredar, meskipun gosip itu ternyata sudah menyebar, teman-teman koasnya berbisik dari jauh sedangkan Residen yang ada di ruang IGD juga melihatnya dengan sinis. Jam tiga subuh, Arlan masuk ke ruang IGD, entah apa yang dicari pria itu. Karin tidak peduli dan pura-pura tidak tahu, Karin tidak mau lagi ke ruangan Arlan, sudah muak rasanya. “Kenapa ponselmu?” tanya Arlan berdiri tepat dihadapan Karin tanpa peduli dengan gosip mereka. “Kenapa apanya dok?” Karin menjawab dengan lembut
Leer más