LOGINSilvi mengambil ponsel Karin dan mencari nomor Dimas di sana, ia menghubungi Dimas karena hanya Dimas yang bisa menggendong Karin. Silvi sama sekali tidak mau menghubungi Arlan meskipun di dalam pikiran Karin hanya ada nama dokter itu. “Arlan, kamu kok tega banget,” gumam Karin sambil menangis. Silvi sampai memijat keningnya karena sudah pusing menghadapi kegalauan Karin. “Kan aku udah bilang, aku mau kok putus dengan dr. Dimas. Kamu kok gitu sih, huhuhuhu.”Silvi menekan nomor Dimas setelah berhasil menemukannya. “Halo dr. Dimas, ini Silvi. Karin mabuk di Club Dragon, dokter bisa datang kesini?” tanya Silvi ragu-ragu. “Aku kesana sekarang!” Dimas tidak berpikir panjang, ia langsung mengarahkan mobilnya ke club, Dimas memang sedang ada di luar saat Silvi menghubunginya dan tidak jauh dari Club.“Maaf Rin, aku bukan gak mau telepon dr. Arlan tapi kamu sama dia memang lebih baik jauh,” gumam Silvi dalam hati. Jujur saja Silvi mendukung putusnya hubungan Karin dan Arlan. Lima bel
“Disini aja,” ucap Karin duduk di sofa kulit hitam dan besar area VIP yang eksklusif. Mereka hanya berdua saja, masih pagi sebenarnya untuk datang ke Club. Tapi Karin tidak peduli. Karin sudah menyewa table ini untuk malam panjangnya yang sepi. Karin ada di Club mewah yang ada di jantung Jakarta, menyajikan gemerlap cahaya lampu kerlab kerlib , dentuman musik bas yang kuat, dan aroma parfum mahal dari para kaum elite.Karin mengedarkan matanya, banyak tamu yang mencari tempat duduk VIP, berbisik lembut dengan para LC yang dipilih dan tertawa dengan suara yang besar sekali. Seharusnya kalau Karin butuh tempat yang nyaman, bukan disini tapi Karin hanya ingin menghilangkan Arlan dalam pikirannya. Tempat ini sebenarnya hanya untuk menjadi saksi bisu transaksi rahasia, intrik kekuasaan, dan topeng kemewahan dunia malam ibukota.Laser warna-warni membelah ruangan gelap. Gelas kristal berkilau dengan cairan amber mahal. Asap tipis dari rokok elektrik beraroma mint. Bahkan Silvi juga ikut
Dari tadi perasaan Karin sudah tidak enak, entah apa yang terjadi, sejak ia datang ke ruangan Arlan, tidak ada lagi perhatian dari Arlan bahkan Arlan sudah pulang sore ini. “Karinnnn!” teriak Silvi dari jauh, Karin mau pulang ke rumahnya, tapi Silvi menghalanginya. “Kenapa Sil?” Pasti ada gosip yang sangat hangat, sampai Silvi tidak bisa membicarakannya dari telepon. “Tadi dr. Luna ngomong di ruangan IGD, dia dengar kalau dr. Arlan mengundurkan diri jadi Calon Direktur Rumah Sakit, katanya dia gak sanggup.” “Apa?” Arlan begitu sibuk bulan ini, jabatan ini memang sangat penting untuk Arlan. Lalu, kenapa Arlan malah mengundurkan diri? “Iya dan di bagian kepegawaian juga sudah heboh, dr. Arlan menarik berkasnya dan yang lebih membuat terkejut lagi, tau gak siapa yang gantikan?” tanya Silvi dengan napasnya yang tersengal-sengal. “Siapa?” Pantas sekali perasaan Karin tidak nyaman dari siang, ternyata ini yang akan terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada yang Arlan tutupi at
Belum sempat Karin datang ke kantor Dimas, Dimas mengirimkan video ke ponsel Arlan. “Kau masih menyangkal punya hubungan dengan Karin?” Tiba-tiba Arlan berdiri, ia mengedarkan matanya mencari CCTV kecil yang dipasang oleh Dimas di ruangannya. Bajingan! Arlan menghubungi Dimas, bahkan Karin saja belum masuk ke ruangan Dimas. “Apa maumu?” tanya Arlan dengan mengepalkan tangannya. Video ini tidak mungkin beredar, Arlan masih bisa menyangkal hubungannya dengan Karin kalau tidak ada rekaman video seperti ini tapi kalau sudah ada bukti kuat seperti saat ini, karirnya jelas akan hancur. “Apa mauku sudah sangat jelas dr. Arlan. Kau mengundurkan diri dari posisimu saat ini dan tinggalkan Karin.” Arlan menarik sudut bibirnya, ia sudah tahu kalau Dimas ini pria yang jahat, bukan pria lembut seperti yang Karin katakan. Ia selalu mencari celah keburukan Arlan supaya bisa menggantikannya, Arlan sudah lama curiga dengan Dimas. “Kalau aku tidak mau?” tanya Arlan. “Aku tidak masalah, yang jela
“Jadi, semalam kamu dimana? dr. Haikal tau gak kamu nginap rumah aku?” tanya Karin. Karin putuskan ia mau bicara dengan Dimas baik-baik, dan hanya punya satu cinta. Saat ini pikiran Karin memang hanya ada Arlan, Dimas ada untuk tameng saja meskipun Karin mulai menyukai Dimas.“Tau, malam ini dia jemput aku untuk tinggal dengannya, ya udahlah aku gak mau menghindar terus,” jawab Silvi sambil memijat kepalanya. Silvi tidak bisa tidur, ingat ucapan Papi Karin. Padahal Silvi pikir, Silvi tidak mungkin jadi korban Papinya. Ternyata Papi Karin semalam berani sekali masuk kamarnya dan memeluknya. Kalau Silvi cerita, pasti akan terjadi keributan lagi, Silvi tidak mau bertengkar dengan Karin gara-gara ini. Lebih baik ia menjauh saja. “Gak mungkin gak gituan loh kalau udah satu apartemen, gak masalah?” tanya Karin. “Apanya yang masalah?” Silvi kesal mendengarnya, memangnya ia perawan, seperti kata Karin, Silvi hanya pura-pura sok suci saja, ia sangat paham masalah itu dan sering. Apalagi ya
Tangan Karin diikat di sisi kanan dan kiri ranjang menghadap ke ranjang, Arlan menepuk pinggulnya berulang kali sambil menghentakkan dengan kasar, masuk lebih dalam ke tubuh Karin. Karin mendesah hebat dan menoleh ke belakang, Arlan memang tidak pernah gagal membuatnya puas. “Ahhh dok, lebih dalam sayang,” bisik Karin menoleh ke belakang dan Arlan meraup bibir Karin dengan rakus masih sambil menggoyangkan pinggulnya. Semalam mereka bercinta, Arlan menghukum Karin yang nakal dengan cara seperti itu. Kenyataannya mereka tidak mengerti kata putus itu seperti apa dan tetap saja bersama bahkan bercinta.Mereka juga tidak mengerti dengan ikatan darah yang terjalin di antara mereka, hanya ada gairah dan semoga takdir tidak terlalu tega memisahkan mereka berdua. “dok, Karin sayang banget dengan dokter, Karin gak mau kita berpisah,” ucap Karin dalam pelukan Arlan, Arlan pun tidak mau tapi Karin selalu berbohong. Bilang saja tidak mau berpisah tapi saat melihat ada pria lain yang mendekat
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







