Se connecterKarin tidak puas sekali, ia harus mengutuk kelakuan Arlan dan marah didepannya karena sudah mencampakkannya saja seperti ini, setelah habis manisnya, sepahnya dibuang. “Tuh, dr. Dimas.” Dimas bertemu lagi dengan Papi Rion, wajah Papi Rion tidak suka tapi karena Dimas kekasih Karin, ia berusaha menerima Dimas. “Pi, kayaknya Mami gak mau pulang, Karin pergi dulu ya dengan dr. Dimas. Makan malam aja,” ucap Karin langsung pamit sebelum Dimas menuju ke arahnya. Sedangkan Karin lupa mengajak Silvi, Silvi bengong sendirian bersama dengan Papi Rion. Karin serius meninggalnya sendirian dengan predator? Tidak takut sahabatnya yang cuma satu-satunya ini dibungkus. “Rinnnnnnnn!” Silvi teriak tapi tangannya keduluan dipegang oleh dr. Dimas. “Sama Papi aja pulangnya, jadi sahabat pengertian, Karin sedang pacaran.” Hahh? Pengertian? Silvi menelan salivanya dan menatap Papi Rion dengan wajahnya yang aneh. “Oh itu anu Pi, Silvi sudah janji dengan dr. Haikal.” Tetap saja Silvi ditarik dan ak
“Kamu dimana?” tanya Dimas. Berulang kali Dimas menghubungi Karin tapi Karin tidak menjawab, jangan-jangan Karin pergi dengan Arlan. “Sama Papi aku, jemput Mami. Kenapa?” Karin sudah jujur, memang ia sedang melakukan itu tapi Dimas tidak percaya, ini hari libur. Karin dan Arlan juga sedang tidak bersama. Lalu, kenapa?Kenapa Karin tidak menghubunginya? Tidak pernah menganggapnya ada. “Apa aku gak pernah penting untuk hidup kamu Karin?” tanya Dimas. Mungkin ini sudah batas kesabaran Dimas pada Karin. Seharusnya Karin berterimakasih karena Dimas tidak membongkar aibnya dan masih menutupi semua itu. Tapi, wanita ini malah tidak pernah melihatnya.“dok, kamu kenapa sih? Kenapa telepon ngomong begini? Kalau memang Karin gak bisa buat dokter bahagia, dokter bisa kok kembali dengan dr. Luna. Karin gak masalah.” Dimas diam, membuat Karin bingung. Padahal Dimas sedang marah saat ini. Ingin sekali ia berteriak pada Karin dan meluapkan amarahnya pada Karin seperti saat ia marah dengan mant
“Kurang uang aku, telepon Papi gak?” tanya Karin saat melihat Silvi. Ternyata perhiasan yang sering Karin gunakan mahal-mahal sekali. Silvi tidak sanggup membelinya tapi kalau Karin seperti membeli kacang. “Suruh transfer aja, gak usah suruh datang ke Toko ini.” Padahal Mami Kaina juga ada Toko Berlian tapi Karin malah membeli ke Toko lain. “Kenapa sih? Kamu kok kayak takut banget sama Papi, hahahahah.” Bukan apa-apa, Papi Rion mesum, cara ia melihat Silvi itu seperti melihat mangsanya. Silvi juga tidak menyangka kalau ia termasuk selera Papi Rion. “Udah gitu aja, buruan!” Karin menghubungi Papi Rion dan benar saja, Papinya ingin datang sendiri. Ia tidak mau lagi mengirimkan uang karena tidak percaya Karin memang membeli perhiasan padahal alasan saja ingin melihat anaknya dan sahabat Karin. Tiga puluh menit, Karin sabar menunggu. Papi Rion datang dengan gagahnya, benar-benar tidak terlihat seperti sudah tua, gayanya anak muda sekali. Silvi sampai ketar-ketir saat didekati Papi R
Karin menggosok area intimnya saat ia sedang mandi, ada yang lengket, cairan kental dan baunya Karin tahu sekali. “Apa semalam aku bercinta?” tanya Karin dalam hati. Meskipun mabuk, rasanya Karin ingat ia tidak melakukan hubungan intim dengan pria manapun. Apa itu Arlan? Semalam Arlan datang ke rumahnya. Mana mungkin Dimas pikir Karin. Karin mengambil ponselnya dan melihat CCTV di bagian luar, ternyata memang ada mobil Arlan, Arlan datang dengan mobilnya yang lain dan itu sudah larut sekali. Ia malah menuju area dapur. “Pasti ada seseorang yang dia temui malam tadi,” gumam Karin menunggu seseorang muncul dari area dapur karena kamera CCTV tidak terlalu jelas di bagian itu. Pembantu rumah tangga mereka membawa dua jus ke arah kamar Karin dan Karin area CCTV ke kamarnya hilang. “Apa aku segitu matinya sampai gak ingat kejadian semalam?” Tidak lama Arlan keluar dari dapur menuju ke arah kamarnya. Karin tersenyum, sudah jelas pria mesum ini yang menodainya semalam. Karin senang kal
“dr. Arlan, kau pikir aku bodoh.” Pagi ini, Dimas menghubungi Arlan, ia tahu kalau Arlan datang larut malam ke rumah Karin. Padahal sudah Dimas peringatkan untuk menjauhi Karin atau Dimas tidak akan segan-segan membuat Arlan dan Karin tidak punya muka lagi menghadapi dunia. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Arlan pura-pura tidak paham, memang ia datang tapi Arlan tidak akan mengakui itu. “Aku meminta orang membuntutimu dr. Arlan, kau masih mencari celah untuk bersama Karin ternyata, kalau sampai besok kau masih melakukan itu, aku akan membuat perhitungan denganmu dan jangan kau pikir aku tidak berani melakukannya.” Arlan mengepalkan tangannya dan tidak sabar untuk menghajar wajah Dimas yang tampan itu sampai hancur. “Berhenti mengancamku dr. Dimas. Bukan berarti kau punya kelemahanku, aku akan tunduk padamu, silahkan saja! Hancurkan nama baikku, aku tidak akan peduli.”“Baik, kalau itu maumu.” Sebenarnya Arlan tidak takut nama baiknya hancur tapi Karin punya trauma akut, Arla
Dimas merapikan anak rambut yang menutupi wajah Karin, Karin sudah tidur pulas, ia tidak lagi meracau sakit hati karena ditinggalkan Arlan, Dimas bahkan harus pura-pura tidak mendengar supaya hubungan mereka tetapi berlanjut. Meskipun Dimas tahu apa yang dilakukan Karin dengan Arlan, Dimas tidak ada rencana sama sekali memberikan Karin pada Arlan, justru Dimas ingin memiliki Karin seutuhnya dan menjauhkan Karin dari Arlan. “Makasih dok, sudah antar kamu pulang, saya bisa menjaga Karin sendirian di kamar,” ucap Silvi sambil menatap Dimas. Dimas begitu lembut, bahkan meminta pelayan mengambil handuk bersih juga air hangat, Dimas sendiri yang membasuh leher dan tangannya Karin dengan handuk hangat itu. “Kalau nanti ada apa-apa, hubungi saya saja, saya akan usahakan selalu datang kalau untuk Karin,” jawab Dimas. Dimas mengecup lembut kening Karin sebelum pulang. “Baik, dok.” Setelah Dimas keluar dari kamar Karin dan pulang, Silvi bisa bernapas lega. Rasanya mau mati saja mendengar Ka
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







