Karin panik, memundurkan langkah hingga menabrak wastafel pualam. Ia mendesis marah, "Kau pamanku! Ini gila, Dokter!"Arlan hanya menyeringai pelan, melepas jas mahalnya, dan menyatakan bahwa ikatan darah tiri ini justru membuat hierarki mereka semakin mutlak."Di rumah sakit kau milikku, di keluarga ini pun kau ada di bawah kendaliku, Karin."Arlan menatap Karin dari atas sampai bawah, Dress bodycon berwarna hitam dengan high slit hampir menyentuh panggul, memberikan kesan feminim dan seksi pada Karin. Arlan suka melihatnya, apalagi posisi mereka yang begitu intens seperti ini. “Aku bukan milikmu, dokter.” Karin tidak suka dengan pernyataan yang baru saja Arlan lontarkan padanya. Karin tidak pernah dimiliki siapapun dan ia dengan Arlan juga baru kenal, hanya sebatas Konsulen dengan koas. Ya, tidak lebih! Tidak akan pernah lebih apalagi saat ini Karin tahu kalau Arlan adalah Pamannya. Ini gila!“Bukan kau yang menentukan permainan ini Karin tapi aku.”Karin ingin keluar dari toilet
Leer más