Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 38 Hadiah Untuk Karin

Share

Bab 38 Hadiah Untuk Karin

last update publish date: 2026-06-20 14:47:48

Mulai Minggu ini, Karin masuk pagi lagi. Setelah malam panas itu, sejujurnya Karin menghindari Arlan.

Bodoh memang!

Keperawanan sudah dia berikan, ia juga tidak bisa menghindari Arlan karena Arlan Konsulennya. Kenapa ia malah bersembunyi seperti tikus?

“Aku malu atau aku malas?” tanya Karin sambil mengusap make up tipis ke wajah cantiknya.

Kedua orang tuanya belum pulang, mereka sibuk liburan masing-masing. Tidak pernah memikirkan perasaan Karin dan Kakaknya.

Pesan dari Arlan juga tidak Ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 406 Hadiah Dari Rasa Sakit

    Jangan salahkan Silvi jika pagi ini hatinya diselimuti kekesalan yang teramat sangat pada Rion.Luka semalam masih basah dan berdarah. Kata “pelacur” yang dilontarkan Rion terus terngiang di telinganya bagai belati, tak peduli meski pria itu mengucapkannya dalam kondisi mabuk berat.Di tengah usahanya merapikan diri di cermin wastafel rumah sakit, ponsel Silvi berdering.Tubuhnya terasa remuk redam setelah semalaman penuh terjebak lembur. Ia bahkan belum sempat pulang ke apartemen, hanya sempat membasuh diri sekedarnya di kamar mandi rumah sakit untuk mengusir penat yang nyaris menghancurkan punggungnya.Layar ponselnya berkedip, menampilkan nama Rion. Silvi tersenyum getir. Pria itu pasti baru saja sadar dari pengaruh alkohol dan menyadari kebodohannya semalam.“Halo, Sayang.”Suara Rion terdengar melembut di seberang sana, sarat akan rasa bersalah yang disembunyikan.Sekretaris pribadinya, seorang pria yang ikut mendampingi Rion di pesta semalam dan tahu betul skandal rahasia di ant

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 405 Sakit Hati

    “Brengsek! Mati saja kau!” Dion menghubunginya hanya untuk menaburkan garam di atas luka lama. Lelaki itu tidak pernah peduli dan kini hanya datang untuk mematahkan hatinya sekali lagi.Dengan napas memburu dan tangan gemetar menahan amarah, Karin memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.Kasar! Ya, Karin tidak peduli.Ponselnya berdering, namun pesan dari Dion dibiarkannya membusuk di kolom notifikasi.Cukup sudah!Malam ini, Karin berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti meratapi kesendirian yang selama ini mencekik lehernya. Ia berhak bahagia, dan fokus itu kini hanya milik dirinya sendiri.Karin melirik jam dinding lalu merebahkan tubuhnya yang lelah. Sudah larut sekali. Besok, ia mungkin akan terlambat ke rumah sakit karena ada janji temu atau bahkan tidak datang sama sekali.Dua hari meninggalkan bangsal saja sudah membuat laporan medisnya menumpuk tak karuan. Dibayangkannya tumpukan berkas itu saja sudah cukup membuat kepalanya berdenyut.Ia tahu, ia harus rela lemb

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 404 Tidak Sabar Lagi

    Begitu sambungan telepon terputus, Arlan bersandar di kursi kerjanya dengan senyum yang merekah lebar.Keheningan ruang kerja itu seketika pecah oleh tawa kecilnya yang tak tertahankan.Bayangan bahwa Karin,wanita yang selama ini ia kejar, akhirnya setuju untuk menikah dengannya terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.Akhirnya….Setelah sekian purnama terlewati. Setelah badai masalah, gunjingan yang menyakitkan dan penolakan dari orang-orang yang membenci penyatuan mereka, benteng pertahanan Karin luluh juga."Aku akan menyiapkan semuanya," gumam Arlan, jemarinya dengan tangkas mulai mencoret-coret selembar kertas.Di kepalanya, daftar persiapan pernikahan langsung tersusun rapi.Arlan tahu betul, calon istrinya itu sama sekali tidak paham urusan domestik. Karin bahkan bercerita bahwa keahliannya hanyalah makan dan tidur.Arlan hanya tersenyum mengingatnya, bagi Arlan, fakta bahwa Karin masih bernyawa dan berada di sisinya sudah lebih dari cukup.Jika ada ruang untuk penyesalan karen

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 403 Pertahanan Mulai Runtuh

    “Kenapa masih menangis?” suara Arlan memecah keheningan malam lewat panggilan video.Pria itu baru saja menghempaskan tubuh lelahnya ke ranjang. Kemejanya kusut, kancing atasnya terbuka sembarang, dan rambut yang biasa tertata klimis kini berantakan, mencerminkan harinya yang kacau.Namun, begitu matanya menatap layar, rasa lelah itu menguap. Tatapannya terkunci pada Karin, wanita yang tetap terlihat begitu cantik dan rapuh, bahkan dengan air mata yang masih menggenang di sudut kelopak matanya.“Orang tua itu membuatmu menangis lagi?” tanya Arlan, nada suaranya menyelipkan ejekan yang getir untuk Papanya sendiri.Sialan!Ini abad modern, tapi keluarganya masih saja terbelenggu oleh etika kuno yang mencekik. Arlan menghembuskan napas berat, tersenyum pahit pada nasib.Dulu, ia dipaksa masuk ke dalam perjodohan yang ia benci. Sekarang, saat ia telah menemukan belahan jiwanya, mereka justru menjatuhkan larangan keras yang tidak masuk akal.“Aku mau menikah denganmu, dok.” Arlan tertegun.

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 402 Lampu Hijau Dari Nenek Rosa

    Billy memejamkan mata erat-erat, membuang muka demi menyembunyikan gurat kesedihan mendalam yang merayap di wajah tuanya.Karin adalah cucu perempuan satu-satunya. Gadis yang tumbuh begitu cantik jelita, namun nyatanya bukan darah murni Wijaya.Billy sudah mengetahui rahasia itu sejak lama, ia hanya memilih memakai topeng ketidaktahuan demi menjaga perasaan nama baik keluarganya.“Kembali ke kamarmu, Karin! Kau membuat jantung Kakek sakit. Masuk sana!” Billy mencengkram dada kirinya yang mendadak terasa dihantam godam.Karin berbalik dengan tubuh lemas, menghapus air mata yang terus mengalir deras di pipinya.Percuma!Membujuk kakeknya egois itu sama saja seperti mengetuk pintu batu. Billy tetap bertahan di tahtanya, lengkap dengan ancaman mengerikan yang siap menghancurkan masa depan mereka.“Papa ... Mama benar-benar gak tega melihat mereka berdua seperti itu,” bisik Nenek Rosa lirih setelah Karin menghilang di balik tangga.“Diamlah, Rosa!” Billy membentak pelan, kehabisan energi m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 401 Melawan Silsilah

    Kakek Billy mulai merasakan sesak yang menghimpit dadanya. Menghadapi dua sejoli yang sedang dimabuk cinta buta itu rasanya seperti menggenggam bara api.Tembok etika dan kehormatan yang ia jaga puluhan tahun kini diambang kehancuran.Seharusnya, Karin memanggil Arlan dengan sebutan "Om".Mengapa mereka justru bermain api dan menjalin hubungan gelap di belakang punggung keluarga?Billy mengempaskan tubuh rentanya di atas sofa ruang tengah. Itu adalah kursi kebesarannya setiap kali keluarga besar Wijaya berkumpul, sebuah kursi jati kuno yang dipesan khusus dari tangan pengrajin legendaris Jawa, kokoh namun kini terasa begitu dingin.Dengan jemari yang gemetar, ia memijat keningnya yang berdenyut hebat.Sepasang polisi baru saja melangkah keluar dari rumahnya, diekori oleh Arlan yang menatapnya penuh tantangan.Kelakuan Arlan benar-benar sudah gila!Pria itu nekat memanggil polisi hanya karena Billy melarang Karin keluar rumah.Billy mencengkram dadanya yang nyeri. Jika sampai mata-mata

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status