LOGIN“Kamu kayaknya suka dengan Laura,” ucap Karin.Matanya menyipit, menatap tajam sang suami yang baru saja tertangkap basah memandang saudari kembarnya.Ada nada getir yang berusaha ia sembunyikan di balik senyumnya.Cemburu!Arlan hampir saja tersedak udara. Ia menatap Karin dengan tatapan“Kamu bicara apa sih, Sayang?”Demi apapun, untuk menikahi Karin saja, Arlan harus melewati perjuangan berdarah-darah yang lebih melelahkan daripada mendaftar jadi Direktur Rumah Sakit.Mana mungkin ia menyia-nyiakan istri yang baru beberapa hari dinikahinya ini?Lagi pula, mereka itu kembar identik.Wajahnya sama persis!Untuk apa Arlan melirik Laura? Kurang kerjaan sekali memuja kloningan dari wanita yang sudah sah jadi miliknya.Bukannya takut, Arlan malah tertawa geli. Sudut bibirnya terangkat tinggi, merasa menang.Cemburu, nih? batinnya bersorak.Kalau dulu rasanya hanya cinta Arlan yang bertepuk sebelah tangan saking besarnya, sekarang ia tahu, takaran cinta Karin sudah sama penuhnya.“Kok mal
“Kok gak dimakan?” tanya Laura.Wajahnya seketika menyendu, memandangi jajaran kotak bekal premium yang masih tertutup rapat di atas meja kosong ruang istirahat koas.Padahal, ia sengaja meminta koki pribadinya menyiapkan bahan-bahan terbaik untuk sarapan pagi menjelang siang ini, meski jika melihat jarum jam, ini sudah pantas disebut makan siang.Karin tidak menjawab.Ia justru melipat kedua tangannya di dada, menyandarkan punggung ke kursi peron seraya melemparkan tatapan jengkel.“Laura lebih bebal dari Silvi,” gerutu Karin merutuk.Di sebelah Karin, Silvi duduk tegak dengan mata membelalak takjub. Ia bergantian menatap Karin dan Laura dengan seksama.Kemiripan mereka sungguh di luar akal sehat.Bedanya, raut Karin sekaku es dan selalu jutek, sementara Laura memancarkan aura lembut yang hangat.Laura sangat mudah tersenyum, berbanding terbalik dengan Karin yang hobi cemberut dan memancarkan aura dingin.Sejak tadi, Silvi sudah berulang kali menggumamkan kata maaf, namun Karin tetap
“Tentu, dengan senang hati,” jawab Laura cepat sambil mengeluarkan ponselnya.Setelah saling bertukar nomor telepon di koridor tersebut, Dimas mengantar Laura tepat ke depan ruang istirahat Koas.“Jadi, sehari-hari jadwal Dokter padat sekali, ya?” tanya Laura sambil berjalan beriringan di koridor rumah sakit, matanya berbinar antusias.Dimas tersenyum tipis, menyesuaikan langkah kakinya yang tegap dengan langkah Laura.“Bisa dibilang begitu. Sebagai spesialis obgyn yang fokus ke onkologi, hari-hari saya itu seperti pacuan eksklusif melawan waktu. Taruhannya nyawa.”“Wah ... kedengarannya berat banget,” ucap Laura, penuh kesan.“Memang, tapi di situ seninya,” suara Dimas terdengar berat namun entah mengapa terasa sangat menenangkan di telinga Laura.“Mulai dari menyelamatkan pasien dari keganasan kanker serviks, mengangkat kista ovarium yang posisinya rumit, sampai menangani miom atau tumor panggul. Di bawah lampu bedah, keputusan hidup dan mati sering kali harus saya ambil hanya dalam
“Saya mau mencari Koas Karin?’Laura berdiri dengan anggun di tengah ramainya lobi rumah sakit.Pagi ini, ia sengaja meluangkan waktu demi saudara kembarnya yang selalu bersikap dingin dan tidak peduli.Laura tahu betul risiko datang ke tempat ini. Di sinilah Karin menghabiskan waktu magangnya dan di sini pula Arlan suami Karin, menjabat sebagai direktur utama.Perawat di balik meja resepsionis terpaku. Penanya di tangannya nyaris terjatuh. Ia menatap Laura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata membelalak penuh keterkejutan.Wajah wanita di hadapannya ini benar-benar jiplakan sempurna dari Karin. Namun, aura yang terpancar sangat jauh berbeda.Jika Karin adalah Koas yang dingin dan tertutup, wanita di depannya ini layaknya peri yang jatuh dari langit. Begitu ramah!Laura mengenakan dress mini berbahan sutra premium berwarna putih gading dari rumah mode ternama, membungkus tubuh rampingnya dengan sangat elegan.Potongan gaunnya simple namun berkelas, memamerkan kaki jenjangny
“Moreno.”Pria itu mengulurkan tangan, memperkenalkan diri pada Arlan dengan nada penuh percaya diri yang berbatasan dengan angkuh.“Kekasih Laura.”Karin yang berdiri di sebelah Arlan langsung merasa atmosfer di sekitar mereka menyusut.Rasa tidak nyaman merayap di tengkuknya.Berada di satu ruangan dengan orang asing selalu membuatnya jengah, apalagi orang asing ini bersama Laura, kembaran yang selama ini tidak pernah ada di hidupnya.Segala hal tentang situasi ini terasa ganjil, dipaksakan dan Karin benci perasaan tidak siap seperti ini.Namun, Arlan selalu menjadi air bagi apinya. Dengan senyum ramah yang tulus, suaminya itu menyambut uluran tangan Moreno.“Arlan. Saya seorang dokter. Senang bertemu dengan kalian.”Arlan kemudian mengarahkan mereka menuju meja bundar di sudut restoran Prancis mewah itu.Denting sendok perak, pendar cahaya lilin yang temaram dan aroma masakan mahal sama sekali tidak mampu mencairkan kekakuan yang Karin bawa.Di tengah meja, sebotol anggur merah yan
“Memangnya kita mau kemana sih, Sayang?” tanya Karin penasaran.“Rahasia!” jawab Arlan sambil menyentuh ujung hidung Karin dengan lembut. Malam ini Arlan sengaja mengajak Karin makan malam, ketegangan dari kunjungan mengejutkan wanita yang mengaku sebagai ibu kandung Karin seolah menguap di balik pintu masuk sebuah restoran Prancis eksklusif.Restoran tersembunyi ini membutuhkan waktu reservasi hingga berbulan-bulan demi bisa menikmati atmosfernya yang privat dan magis.Karin melangkah anggun dalam balutan gaun malam beludru berwarna hitam pekat. Gaun tanpa lengan itu melekat sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan potongan dada yang rendah namun tetap berkelas.Setiap kali ia melangkah, belahan paha yang cukup tinggi di sisi kiri gaun itu menyingkap kulit mulusnya, memberikan kesan mewah yang memikat perhatian, terutama perhatian suaminya.Mereka duduk di area paling privat, diterangi cahaya lilin temaram.Di atas meja, tersaji hidangan pembuka berupa Foie Gras yang lembut, diik
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







