Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 463 Memaksa Jadi Dekat

Share

Bab 463 Memaksa Jadi Dekat

last update publish date: 2026-09-20 11:16:37

“Tentu, dengan senang hati,” jawab Laura cepat sambil mengeluarkan ponselnya.

Setelah saling bertukar nomor telepon di koridor tersebut, Dimas mengantar Laura tepat ke depan ruang istirahat Koas.

“Jadi, sehari-hari jadwal Dokter padat sekali, ya?” tanya Laura sambil berjalan beriringan di koridor rumah sakit, matanya berbinar antusias.

Dimas tersenyum tipis, menyesuaikan langkah kakinya yang tegap dengan langkah Laura.

“Bisa dibilang begitu. Sebagai spesialis obgyn yang fokus ke onkologi, hari-
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Asy Nahak
lanjut donkkkkkk seru.....🥹...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 606 Cemburunya Karin

    “Mana sih Silvi, katanya udah nyampe di rumah sakit,” ucap Karin sambil terus menghubungi Silvi.Karin sudah janjian dengan Silvi untuk menyiapkan berkas-berkas, persiapan mereka untuk internship setahun.Karin melangkah melewati lobi utama dengan senyum yang sesekali terkembang.Mengenakan pakaian rapi dengan jas dokter barunya yang tersampir di lengan, ia berniat membawakan kopi favorit suaminya sebelum ia sendiri sibuk mengurus berkas administrasi setelah sumpah dokter.Karin menaiki lift menuju lantai atas, tempat ruang kerja Direktur Rumah Sakit berada.“Kemana sih dia ini, kok gak angkat telpon dari tadi.”Koridor lantai khusus manajemen itu tampak agak lengang. Namun, langkah Karin mendadak melambat saat ia mendekati sebuah lorong dekat ruang istirahat dokter.Sayup-sayup, suara bisikan centil dan tawa cekikikan terdengar dari balik dinding pembatas.Di sana, berdiri dua orang koas muda perempuan yang masih mengenakan jas putih polos tanpa bordir nama. Mereka berdua tampak seda

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 605 Jangan Pernah Bertemu Lagi

    Di seberang sana, Karin menghela napas panjang membaca curhatan pilu sahabatnya. Ia tahu seberapa besar Diego menguasai hati Silvi dulu, tapi Karin juga cemas dengan posisi Silvi sekarang yang berada di bawah cengkraman Pak Aldi.“Sil, aku paham kenangan itu manis. Tapi tolong ingat posisimu sekarang. Pak Aldi itu beda kelas. Kalau sampai mata-mata Pak Aldi tau kamu ketemu mantan kekasih gelapmu di rumah sakit, aku gak bisa bayangin apa yang bakal terjadi sama kamu dan keluarga kamu. Tolong rasional, Sil.”Silvi tidak membalas lagi.Ia hanya menatap layar ponselnya yang meredup dengan hati yang hancur berkeping-keping.Yang sama sekali tidak disadari oleh Silvi maupun Karin adalah obrolan larut malam mereka di aplikasi chat tersebut tidak sepenuhnya aman.Di balik meja kerjanya yang megah, Aldi yang sejak tadi memantau gestur gelisah Silvi lewat CCTV bersuara di kamar tidur, mulai mengaktifkan sistem penyadapan kloning ponsel yang telah ia pasang di perangkat Silvi sejak lama.Sial!M

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 604 Kenapa Datang Lagi?

    “Banyak banget, pesan dari siapa aja,” ucap Silvi sambil menarik ponselnya di atas nakas.Malam itu, setelah menolak ajakan makan malam Karin dengan alasan ingin menemani ibunya, Silvi duduk di tepi ranjang kamarnya yang luas.Ia baru saja melepaskan jas dokter barunya, menyisakan gaun satin tipis yang memeluk tubuhnya.Kesunyian rumah mewah itu kembali merayap, membawa sisa-sisa trauma dari konfrontasinya dengan Rion di parkiran kampus tadi siang.Entah kenapa pria itu datang lagi, Silvi sudah tidak mau melihat wajahnya.Belum sempat membaca banyak pesan di ponselnya.Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk. Silvi meraihnya tanpa minat, namun begitu melihat nama pengirimnya, jantungnya seolah berhenti berdetak seketika.Dokter Diego!Sudah lama sekali, Silvi pikir Diego membencinya.“Selamat atas sumpah dokternya, Silvi. Akhirnya kamu resmi jadi partnerku sekarang. Kapan kamu ada waktu senggang? Besok atau lusa, aku ingin kita bertemu.”Bertemu?S

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 603 Waktumu Milikku

    “Aku punya banyak kerjasama bisnis dan hukum dengan dia, Silvi! Kekuasaan Aldi terlalu besar di negeri ini,” bela Rion, mencoba rasional di atas penderitaan orang lain.“Kalau aku menolak perintahnya untuk menyerahkan kamu malam itu, Aldi bisa menghancurkan seluruh karirku dalam semalam. Aku tidak ingin karir pengacara kondangku yang sudah kubangun puluhan tahun hancur begitu saja! Aku terpaksa, Sayang….”“Cukup, Rion! Cukup!” bentak Silvi dengan suara bergetar, memotong kalimat pria itu. Jiwanya rasanya terkoyak kembali ingatan kelam saat di Paris. Silvi tidak mau lagi mendengar sepatah kata pun alasan dari mulut Rion.Untuknya, semuanya sudah lebih dari cukup.Rasa sakit hati yang tertanam di dadanya sudah terlampau dalam hingga membusuk menjadi dendam.Bagaimana bisa pria yang katanya mencintainya tega memberikan obat tidur kedalam minumannya saat mereka berada di Paris?Mengingat malam jahanam itu, di mana ia terbangun dalam kondisi mati rasa dan tidak berdaya, sementara Aldi men

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 602 Tumbal

    “Rion!”Di tengah keriuhan pelataran Aula Utama FKUI, suasana mendadak membeku bagi Silvi saat seorang pria paruh baya bertubuh tegap melangkah mendekati kerumunan mereka.Melihat kedatangan Papinya, Karin langsung tersenyum dan menyambutnya.Papi pasti tahu kalau Karin hari ini melakukan sumpah dokter meskipun Karin tidak mengundangnya.“Papi datang juga, sama siapa?” tanya Karin mengedarkan pandangannya.“Sendiri, Kakek titip salam.”Karin tersenyum lembut, pelan-pelan hubungan mereka akan membaik, Karin melihat wajah Silvi setelah bicara dengan Papinya. Karin tahu hubungan gelap Silvi dengan Papinya sudah berakhir. Untuk Silvi, kehadiran Rion bagaikan hantu dari masa lalu yang paling kelam.Rion bukan sekedar papi dari sahabatnya, melainkan mantan kekasihnya sendiri, pria yang dengan tega menyerahkannya kepada Pak Aldi saat mereka berada di Paris.Di kota itulah, demi menyelamatkan bisnis dan menutupi kasus hukum ayahnya, Rion menumbalkan Silvi. Di Paris pula, Silvi digagahi oleh

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 601 Sah Jadi Dokter

    “Sayang, aku deg-degan banget, ya ampun gak nyangka banget akhirnya Sayang, aku beneran jadi dokter,” ucap Karin sebelum turun dari mobil.Hari yang dinanti-nanti dengan penuh cucuran keringat, air mata dan malam-malam tanpa tidur akhirnya tiba. Setelah melewati badai ujian CBT dan OSCE UKMPPD yang menguras kewarasan, hari ini Karin dan Silvi resmi berdiri di atas podium kehormatan.“Aku juga senang, Sayang. Aku bangga sama kamu.” Arlan menyentuh pipi Karin dengan kedua tangannya. Rasa lelah selama bertahun-tahun menjalani masa koas seolah menguap begitu saja saat mereka mengenakan jas putih kebanggaan yang baru.“Ayo, kita masuk. Sayang!” Karin mengajak Arlan. Acara pengambilan sumpah dokter tersebut diselenggarakan dengan sangat khidmat di Aula Utama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Salemba, Jakarta.Ruangan besar itu dipenuhi oleh aroma harum bunga, jas-jas formal para pejabat kampus, serta senyum haru dari orang tua dan keluarga wisudawan yang hadir.Jantung Kar

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status