Sore itu, perjalanan pulang menuju rumah kediaman Mahendra terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Vio memilih untuk menyetir mobilnya sendiri, menolak tawaran Kael yang sempat bersikeras ingin mengantarnya. Di dalam hatinya, Vio butuh waktu untuk sendirian, menyusun kembali kepingan keberaniannya yang sempat porak-poranda setelah kunjungan mendadak Papa di kantor siang tadi.Tepat pukul setengah tujuh malam, mobil Vio memasuki gerbang besar rumah keluarga Mahendra. Rumah berarsitektur megah itu tampak tenang, tetapi di mata Vio, pilar-pilar tinggi itu kini terasa seperti jeruji yang siap mengurung rahasia terlarangnya bersama Kael.Saat Vio melangkah masuk ke dalam ruang tengah, aroma masakan rumahan yang familier langsung menyambut indra penciumannya. Dari arah dapur bersih, sesosok wanita paruh baya dengan daster elegan berbalik. Begitu melihat Vio berdiri di sana, mata Mama langsung berkaca-kaca.“Vio…” Mama bergegas menghampiri, lalu memeluk putrinya dengan sangat erat. “Kamu
閱讀更多