Nama Rio dan bumbu perjodohan terselubung yang dibawa Gisel membuat pipi Vio merona. Sudah lama sekali dia tidak merasakan interaksi normal layaknya wanita muda yang dikagumi pria lain secara sehat. Selama ini, dunianya hanya dipenuhi oleh dominasi gelap Kael yang menakutkan.“Ah, masa sih, Gisel? Kamu jangan mengada-ngada deh,” jawab Vio malu-malu, menunduk menyembunyikan senyumnya.“Serius! Adrian yang dijodohin sama kamu lewat keluarga itu kan belum tentu cocok, mending kamu buka lembaran baru. Gimana kalau nanti malam sepulang kantor kita pergi ke kafe baru di daerah Senopati? Aku bakal ajak Rio juga. Kita seru-seruan bareng, lepasin semua stres kamu dari Pak Kael. Kamu mau, kan?” Gisel menggenggam tangan Vio, menatapnya dengan binar mata seorang sahabat yang sangat suportif.Gagasan untuk bebas, tertawa, dan didekati oleh pria normal seperti Rio tanpa pengawasan Kael terasa seperti sebuah kemerdekaan bagi Vio. “Boleh, Gisel. Sepertinya aku memang butuh healing.”Saking senang
閱讀更多