Vio panik luar biasa. Ia berusaha sekuat tenaga mendorong dada Kael, tetapi pria itu seperti tembok yang tak tergoyahkan. Bukannya menjauh, Kael justru sengaja mengeraskan otot lengannya, mengunci Vio dalam dekapan yang sangat rapat tepat saat suara engsel pintu balkon berderit terbuka.Adrian berdiri di sana, tetapi ia tidak bisa melihat siapa wanita yang sedang didekap Kael. Posisi tubuh Kael yang menjulang tinggi membelakangi pintu, secara sempurna menutupi seluruh tubuh Vio yang mungil. Bagi Adrian, ia hanya melihat punggung Kael yang sedang memojokkan seorang wanita di pagar balkon.“Kael? Kamu di sana?” Suara Adrian terdengar ragu, langkah kakinya semakin mendekat.Vio gemetar hebat. Ia mendongak, menatap mata Kael dengan tatapan memohon. “Kael, pergilah! Aku mohon, menjauh sekarang,” bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya tercekat di tenggorokan.Kael tidak bergerak. Alih-alih menjauh, ia justru semakin mencondongkan tubuhnya, mengurung Vio hingga punggung gadis itu mene
閱讀更多