Pagi itu, sinar matahari masuk malu-malu melalui celah jendela apartemen, menyinari kepulan uap dari panci sup yang tengah mendidih. Di dapur yang biasanya riuh dengan ocehan Giselle, kini hanya ada keheningan yang canggung namun tidak lagi terasa mencekik. Sean bergerak dengan sangat hati-hati. Ia memotong sayuran dengan gerakan presisi, sesekali melirik Fara yang berdiri di sampingnya, sedang mengaduk bubur. Tiga bulan ini, Sean belajar menjadi bayangan yang berguna. Ia ada, ia melayani, tapi ia tidak pernah memaksa masuk ke ruang pikiran Fara yang masih terkunci rapat. "Garamnya habis," suara Fara memecah kesunyian. Rendah, hampir berbisik, tapi bagi Sean itu seperti ledakan di tengah padang gurun. Sean segera meraih botol garam di rak atas—tempat yang sulit dijangkau oleh wanitanya dengan perut yang mulai membuncit, dan menyerahkannya. "Ini, Far." Jari mereka bersentuhan sesaat. Fara tidak langsung menarik tangannya seperti biasanya. Ia justru terdiam, menatap punggung
Last Updated : 2026-05-04 Read more