Angin malam berputar pelan di taman Paviliun Permaisuri, membawa aroma arak yang semakin pekat seiring berlalunya waktu.Kendi-kendi kosong sudah tergeletak di sisi meja batu. Satu, dua, tiga entah sejak kapan bertambah menjadi beberapa.Lampu minyak di sudut tiang bergetar halus, cahayanya memantul di permukaan cairan dalam cangkir yang hampir tidak pernah benar-benar kosong.Shen Mo duduk di sana sejak tadi.Gerakannya tidak berubah. Tenang. Teratur. Cangkir diangkat, diminum, diletakkan kembali. Lalu diisi lagi.Seolah waktu tidak benar-benar berjalan untuknya.Di seberangnya, Shen Yuze duduk tanpa banyak bergerak.Kertas-kertas berwarna yang tadi dibawanya kini terlipat di tangannya, sesekali diremas tanpa sadar, lalu dilepaskan kembali.Tatapannya tidak selalu tertuju pada Shen Mo—kadang ke meja, kadang ke kendi-kendi kosong, kadang ke arah halaman gelap di luar paviliun.Namun, ia tidak pergi. Hanya duduk. Mengamati.Setelah beberapa saat, Shen Mo menuangkan lagi arak ke dalam c
Read more