Ruangan mendadak sunyi. Suara hujan di luar menjadi satu-satunya yang terdengar di tengah kepulan debu yang belum sepenuhnya menghilang.Leonard perlahan menundukkan kepala. Tatapannya jatuh pada pundak kanannya. Di sana, peluru Agnira telah mengoyak dagingnya. Darah merembes keluar, membasahi kemeja putih yang dikenakannya.Bukannya mengaduh kesakitan, pria itu justru tersenyum, lalu ia tertawa kencang. Tawanya menggema memenuhi ruangan, satu tangannya menutupi wajah yang terhalang topeng. "Luar biasa," gumamnya sambil mengangkat wajah. "Sudah lama tidak ada wanita yang berani menarik pelatuk ke arahku."Agnira tidak menjawab. Kedua tangannya masih mencengkeram pistol erat, meski jemarinya gemetar hebat. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar menembakkan peluru ke arah seseorang.Dadanya naik turun. Namun, tatapan matanya tidak lagi dipenuhi keraguan. Dia tidak akan menjadi lemah, dia tidak akan hanya diam saat seseorang melukai orang-orangnya."Aku sudah bilang," ucapnya pelan,
Read more