เข้าสู่ระบบHangat dan basah. Dua hal yang Sambara rasakan setelah hampir satu bulan tidak merasakannya, kepala pria itu mendongak, menikmati sensasi hangat yang Agnira berikan.Sementara di bawah sana, sang istri terlihat sangat lihai memainkan perannya. Menjilat perlahan dari bagian depan ke arah pangkal. Celana Sambara sudah tertanggal, kakinya mengejang saat Agnira menjilat bagian 'kepalanya'."Ah ...." Desah halus itu terdengar seiring dengan kuluman yang semakin intens. Tidak berselang lama, Sambara menggenggam tangan Agnira, lalu dengan lembut mengangkat tubuh istrinya hingga duduk di atas meja kerjanya. Agnira menumpukan salah satu kakinya di sisi tubuh Sambara untuk menjaga keseimbangan, membuat posisi mereka kini saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat."Kamu cantik sekali," bisik Sambara pelan. Kepalanya menunduk, mengecup kaki Agnira yang berada di dadanya.Agnira mendekat perlahan, telunjuknya menyentuh dagu Sambara dan membuat pria itu menatap ke arahnya. "Apa kau mau aku,
Pintu terbanting kuat, bunyinya begitu kencang dan membuat Sambara yang sedang fokus bekerja sedikit terkejut. Pria itu menatap wajah sang istri dengan kernyitan heran."Ada apa?" tanyanya heran, menatap sang istri lekat-lekat. "Kamu kelihatan kesal sekali."Agnira berjalan masuk dengan langkah lebar. Wajahnya masih menyiratkan kekesalan. Tanpa menjawab pertanyaan Sambara, ia langsung mengambil botol air di atas meja kerja suaminya, lalu meneguknya beberapa kali.Sambara memutar kursinya menghadap Agnira sepenuhnya. "Jadi, ada cerita apa pagi ini?" Agnira menutup botol air itu sedikit keras, kemudian mengembuskannya napas panjang. "Mas, tamu mu begitu menyebalkan, aku nggak suka!" Sambara meraih pergelangan tangan Agnira dengan lembut, lalu menariknya hingga wanita itu terduduk di atas pangkuannya. Tanpa tergesa, ia mengecup singkat pipi sang istri sebelum mengusapnya perlahan dengan telapak tangan. Sentuhannya begitu lembut, seolah berusaha meredakan seluruh amarah yang mengobar di
Agnira menatap meja makan sekali lagi. Tempat itu dipenuhi berbagai hidangan mewah. Sup hangat, daging panggang, aneka seafood, hingga pencuci mulut tersusun rapi, kontras dengan suasana rumah yang masih dipenuhi suasana berkabung, bahkan di beberapa tempat kain hitam masih dibentangkan.Sudut bibirnya terangkat tipis. Namun, senyum itu sama sekali tidak menghangatkan wajahnya, dia kesal, dan ingin sekali memukul wanita di depannya."Tidak masalah?" ulang Agnira pelan. Ia mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan mata Aurelie."Rumah ini baru saja kehilangan satu anggota keluarga." Suaranya tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam. "Masih ada bunga duka di ruang tamu. Bahkan aroma dupa belum hilang."Aurelie sedikit mengernyit. Ia merasa tidak perlu ikut berduka, lagipula yang mati adalah pekerja bukan salah satu keluarga. Menurutnya, Agnira terlalu bersikap berlebihan."Lalu kau bertanya apakah aku keberatan melihatmu mengadakan jamuan makan?" tanya Agnira menahan kesal.Aur
Hari terus berganti. Namun duka itu tidak pernah pergi, Agnira yang biasanya selalu ceria, kini terlihat selalu merenung dan terdiam. Sedangkan Nayara, wanita itu bahkan sangat jarang membuka suaranya lagi.Kedua wanita itu terlihat sama-sama patah, luka berbeda dengan orang yang sama. Tawa yang senantiasa berada di kediaman Lakeswara menghilang, berubah hening dan sunyi."Nyonya," panggil Nayara pelan, "apa Anda menginginkan sesuatu?" Agnira menggeleng lemah. Tatapannya terus terpaku pada sebuah bunga mawar yang bermekaran di halaman rumah. Angin berembus pelan, meniupkan helai kelopaknya dan berguguran ke bawah tanah."Maaf, Nay." Agnira menarik napas panjang, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Maaf, karena aku sudah membuat orang yang kau cintai pergi." Tangan Nayara terkepal, dadanya bergemuruh hebat. Ucapan Agnira berhasil membuat pertahanannya sedikit goyah."Kenan pernah cerita, kalau dia sedang menyukai seseorang." Agnira menerawang jauh ke depan, mengingat saat-saat wajah K
Suasana ruang tamu langsung dipenuhi ketegangan. Tatapan Surya yang sebelumnya hangat kini berubah dingin dan penuh permusuhan saat menatap Arsen. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal tanpa sadar.Sebaliknya, Arsen terlihat begitu santai, seolah sengaja menikmati perubahan ekspresi pria di hadapannya.Sambara memperhatikan keduanya bergantian. "Kalian saling mengenal?"Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menyesakkan memenuhi ruangan. Beberapa detik kemudian.Surya akhirnya membuka suara dengan nada rendah. "Tidak, ini kali pertama kami berjumpa.Sambara mengangguk singkat. Dia kembali menatap Arsen yang terlihat sangat kotor. "Pergilah, dan bersihkan diri." Arsen mendelik tajam. Sorot matanya bergantian mengarah kepada Sambara dan Surya, seolah sedang membaca situasi yang terjadi."Baru datang sudah diusir?" gerutunya sinis sambil melirik noda lumpur yang menempel di celana dan jaketnya. "Padahal aku belum sempat duduk.""Kau mengotori lantai," balas Samb
Duka mendalam masih menyelimuti kediaman Lakeswara. Suasana rumah yang biasanya tenang kini terasa jauh lebih sunyi.Para pelayat mulai berkurang, tetapi aroma bunga belasungkawa masih memenuhi ruang tamu. Kain-kain hitam masih tergantung di beberapa sudut rumah sebagai tanda berkabung.Di tengah suasana itu, bunyi bel pintu terdengar memecah keheningan. Salah satu pelayan yang sedang merapikan meja tamu segera melangkah menuju pintu utama. Begitu daun pintu terbuka, pelayan wanita itu sedikit terkejut.Di hadapannya berdiri keluarga Maheswara. Aurelie mengenakan gaun hitam sederhana. Di belakangnya, Surya Maheswara dan sang istri berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Tak jauh dari mereka, dua orang sopir menurunkan beberapa koper besar dan bingkisan dari bagasi mobil.Pelayan itu mengernyit bingung. "Silakan masuk, Pak ... Bu."Tak lama kemudian, mereka dipersilakan menuju ruang tamu. Beberapa pekerja rumah saling berpandangan ketika melihat koper-koper itu ikut dibawa masuk."Apa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang







