Jantung Agnira berdegup semakin cepat. Selama beberapa detik, lorong itu diselimuti keheningan, tatapan Sambara bergantian mengarah kepada Agnira dan Kenan, seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.Agnira buru-buru memaksakan senyum, dia mendekat dan memeluk lengan suaminya dengan erat. "Mas, kamu nunggu lama?" Sambara menarik napas dalam, lalu terdiam dan terus mengamati tingkah sang istri. "Dari mana, Kamu?" "Dari toilet," jawab Agnira cepat.Sambara mengangkat sebelah alis. "Lama sekali." "Aku kesulitan berjalan karena sepatu ini." Agnira mengangkat sedikit ujung gaunnya, memperlihatkan sepatu hak tinggi yang masih dikenakannya. "Tumitku masih agak sakit. Jadi, jalannya lama." Tatapan Sambara langsung turun ke pergelangan kaki istrinya. "Masih sakit? Kenapa harus berjalan jauh? Kenapa tidak menungguku." "Jadi, aku harus ngompol di celana begitu? Mas tidak tahu gimana nggak enaknya nahan pipis," gerutu Agnira sambil mendelik tajam.Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Sambara
Read more