LOGINAroma harum dari arah dapur membuat langkah Agnira berbelok. Wanita itu berjalan pelan dan melihat punggung lebar suaminya yang entah sedang membuat apa. Beberapa pekerja dapur pun terlihat berderet rapi sambil menatap cemas pada Sambara.Bahkan salah satu koki terlihat panik saat Sambara mulai menyalakan kompor. Pria paruh baya itu mendekat dan berusaha membantu sebisa mungkin, tetapi tatapan Sambara yang seperti akan menelan orang membuat koki itu merasa takut dan mengurungkan niatnya.Agnira menahan senyum. Pemandangan di hadapannya benar-benar aneh. Sambara Lakeswara, pria yang biasanya membuat orang-orang gemetar hanya dengan satu tatapan, kini berdiri di depan kompor dengan celemek hitam yang terikat seadanya di pinggang.Tangannya sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan. Membuat Agnira penasaran dan mendekat dengan langkah pelan."Masak apa?" tanya Agnira akhirnya.Gerakan tangan Sambara langsung berhenti. Pria itu menoleh, lalu tatapannya berubah seketika ketika mendapati istrin
Siulan pelan terdengar dari mulut tipis Arsen, memecah kesunyian yang menyelimuti lorong bangunan tua itu. Langkahnya santai, seolah tempat tersebut bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Kedua tangannya bahkan terselip di saku celana, sementara matanya menyapu setiap sudut lorong yang remang-remang. Beberapa lampu di atas kepalanya berkedip tidak beraturan. Cahaya yang datang dan pergi membuat bayangan Arsen memanjang di lantai, kemudian menghilang, lalu muncul kembali."Sudah lama sekali," gumamnya pelan.Ia berhenti di depan sebuah pintu besi tua. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan pintu yang dingin dan berdebu. Dari balik pintu itu terdengar suara samar.Arsen tersenyum tipis, ia menghirup udara lembap di sekitarnya yang terasa sesak. "Aroma ini, sudah lama sekali."Begitu pintu terbuka, suara Aurelie langsung menusuk telinganya. Membuat pria manis berwajah polos itu melirik dengan sinis."Lepaskan aku ..." Suara Aurelie nyaris tidak terdengar.Tubuhnya terasa lemas setelah
Basah. Hangat, dan nyaris membuat gila. Itulah yang Sambara rasakan di waktu pagi. Ia terbangun dengan keadaan memalukan.Bagian bawahnya basah, miliknya menegang karena memimpikan hal gila. Ia melirik malu pada Agnira yang menatapnya sambil menahan senyuman."Mas, kamu ngompol?" tanya Agnira polos. Matanya bergerak menatap bagian bawah Sambara yang basah.Pria itu mendesah pelan, lalu melirik sang istri dengan pandangan heran. Bagaimana bisa Agnira terlihat menggairahkan di pagi ini? Apa ini efek mimpi semalam? "Mas, malah bengong," tegur Agnira mengguncang pelan bahu suaminya.Sambara mendesah lelah, lalu menatap kembali pada celananya yang basah. "Tidak, mana ada mengompol tapi tidak basah ke kasur." "Lalu? Kenapa dengan celanamu?" tanya Agnira lagi.Sambara menarik napas dalam-dalam. Jika ia menginginkan istrinya pagi ini, apakah Agnira akan marah? Ia tidak tahu jawabannya sebelum mencoba, dan Sambara terlalu takut untuk mencoba bertanya. Pria itu kembali melirik sang istri, lal
Mobil Arsen berhenti tepat di sebuah bangunan tua yang berdiri terpencil di ujung kawasan yang nyaris tidak berpenghuni. Bangunan itu tampak seperti gudang lama yang telah bertahun-tahun ditinggalkan.Dinding luarnya dipenuhi lumut dan noda hitam akibat hujan, sementara beberapa bagian cat berwarna kelabu telah mengelupas hingga memperlihatkan permukaan semen yang kasar. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit, sebagian ditutup papan kayu lapuk yang warnanya sudah memudar.Pagar besi yang mengelilingi bangunan itu dipenuhi karat. Beberapa bagiannya bahkan telah bengkok, seolah pernah dipaksa dibuka. Di atas gerbang, sebuah lampu tua menggantung dengan cahaya kekuningan yang berkedip-kedip, membuat suasana di sekitarnya terasa semakin mencekam.Tidak ada rumah di sekitar tempat itu. Hanya tanah kosong, semak liar yang tumbuh tidak beraturan, serta pepohonan besar yang rantingnya bergerak pelan diterpa angin malam.Arsen mematikan mesin mobil. Suara me
"Lepaskan! Lepaskan aku!"Teriakan itu terus menggaung kencang. Aurelie berteriak histeris sambil terus memukul jeruji besi penjara. Telapak tangannya memerah, bahkan beberapa bagian kulitnya mulai lecet, tetapi wanita itu seolah tidak merasakan apa pun. "Aku tidak bersalah!" teriaknya lagi. "Kalian semua salah! Kalian tidak tahu apa-apa!"Suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Langkah itu semakin mendekat, tenang dan teratur, berbanding terbalik dengan kegilaan yang memenuhi sel tahanan.Aurelie perlahan menghentikan pukulannya. Napasnya masih memburu. Rambut panjang yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat sosok yang berjalan mendekat di balik cahaya redup."Siapa?" tanyanya serak.Sosok itu berhenti tepat di depan sel. Arsen. Pria itu berdiri dengan satu tangan menyeret kursi besi yang entah di dapat dari mana. Wajahnya terlihat santai, seolah kedatangannya bukan untuk menemui seorang tahanan yang baru saja mengamuk.Aurelie langsun
Sambara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, bersandar pada sisi meja pantry, dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Agnira yang perlahan menyantap makanan di hadapannya.Ada kelegaan kecil di wajahnya ketika melihat mangkuk sup itu mulai kosong. Setidaknya istrinya mau makan. Setelah beberapa saat, Agnira baru menyadari keberadaan seseorang di dekatnya. Tangannya yang sedang memegang sendok berhenti di udara. Tatapan mereka bertemu, sepersekian detik sebelum Agnira memutuskannya."Mas, sejak kapan di situ?" tanya Agnira heran.Sambara mendekat perlahan, ia memilih duduk di depan Agnira dan menatap wajah istrinya dengan lekat. Tangannya mendorong satu mangkuk buah-buahan yang belum wanita itu sentuh."Makanlah," ucap Sambara lembut.Pelayan yang sejak tadi menemani mereka tersenyum kecil, lalu memilih meninggalkan dapur. "Saya kembali ke belakang dulu, Nyonya."Agnira hanya mengangguk. Begitu langkah pelayan itu menghilang, suasana ke
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b







