FAZER LOGINSemua berkumpul di ruang keluarga. Tidak ada yang memulai pembicaraan karena kejadian yang kemarin menimpa mereka. Agnira masih terlihat syok, sedangkan Sambara masih terlihat bungkam. Dia tidak tahu harus mulai dari mana membicarakan perihal ini dengan sang istri.Sambara sadar, jika Ia harus mulai terbuka mengenai masa lalunya pada Agnira. Namun, bibir ini kelu, terlalu sakit untuk mengingat masa lalu.Arsen berdehem singkat, lalu menaruh beberapa berkas yang ia bawa dari kantor polisi di atas meja."Aku baru selesai menemui penyidik," ucapnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menyesakkan. "Aurelie sudah resmi ditahan. Semua bukti yang kita serahkan juga sudah diamankan."Tak seorang pun berani menyela, semua mendengarkan berita yang Arsen bawa dengan seksama. Agnira menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Sesekali ia mengusap perutnya yang mulai membesar, seolah memastikan buah hatinya baik-baik saja.Arsen melanjutkan, "Hasil pemeriksaan aw
Aurelie terbatuk saat cekikan Sambara kian mengencang. Tangannya terus menggapai pergelangan tangan pria itu, berusaha melepaskan cengkeraman yang terasa seperti besi."Khh ...!"Wajahnya perlahan memerah. Napasnya tersendat. Kukunya menggores punggung tangan Sambara, tetapi pria itu bahkan tidak bergeming sedikit pun.Lorong rumah sakit kembali sunyi. Tak seorang pun berani bergerak. Arsen hanya diam, memperhatikan dengan wajah santai karena ia tahu, jika amarah Sambara benar-benar lepas, tidak ada yang mampu menghentikannya."Sambara!" Arsen melangkah mendekat. "Jangan buat dia mati."Namun, Sambara tetap diam. Tatapannya masih tertuju lurus ke mata Aurelie. "Berapa banyak nyawa lagi yang ingin kamu ambil?" tanyanya lirih, tetapi setiap katanya terdengar bagai vonis. "Leana, kedua orang tuamu sendiri, dan sekarang istri serta anak saya."Aurelie terkekeh di sela-sela napasnya yang tersengal. "Itu semua karena ulahmu." Ucapan itu membuat alis Sambara sedikit berkerut. "Apa maksudmu?
Arsen melangkah begitu santai. Tatapannya tetap tertuju pada wanita di depannya yang menggenggam senjata dengan tangan sedikit bergetar. Aurelie terlihat sangat berantakan.Rambut panjangnya kusut menutupi sebagian wajah, baju pasien yang dikenakannya dipenuhi bercak darah yang telah mengering, sementara napasnya memburu akibat emosi yang tak lagi terkendali. Meski demikian, sorot matanya masih menyala penuh kegilaan."Jangan mendekat!" bentaknya serak. Ujung pistol itu kembali bergeser, berpindah dari Sambara ke Agnira.Arsen sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai keramik lorong rumah sakit."Kau tahu, Lie," ucapnya ringan, seolah mereka sedang mengobrol santai. "Ada satu kebiasaanmu yang tidak pernah berubah."Aurelie menyipitkan mata. "Diam!""Kamu selalu menggertak lebih dulu." Arsen tersenyum tipis. "Lalu ketika keadaan mulai lepas dari kendalimu, jemarimu akan gemetar."Tatapan Aurelie seketika turun ke tangannya sendiri, tangannya m
Kilatan mata pisau membelah udara. Namun, tepat sebelum bilah itu menghujam, mata Agnira yang semula terpejam mendadak terbuka.Sorot matanya berubah, terlihat tenang dan tajam. Dalam sepersekian detik, ia mengingat semua latihan dasar yang pernah diam-diam diajarkan Nayara kepadanya, bukan untuk bertarung, melainkan untuk melepaskan diri jika suatu hari benar-benar disandera.'Jangan lawan tenaga lawan. Cari titik lemahnya.' kalimat itu terus Agnira ingat di dalam kepalanya.Ia menarik napas, lalu menjatuhkan berat tubuhnya ke bawah hingga lututnya menekuk. Gerakan itu membuat posisi tubuhnya melorot keluar dari kuncian lengan Aurelie."Apa ...?" Aurelie kehilangan tumpuan. Pisau yang semula mengarah ke perut Agnira hanya menggores kain gaunnya.Belum selesai. Agnira segera memutar tubuh ke sisi luar sambil menghantam pergelangan tangan Aurelie menggunakan siku kirinya."Ahhh!" Jari-jari Aurelie refleks mengendur. Pisau itu hampir terlepas.Kesempatan sekecil apa pun langsung dimanfa
"Kalian ... tidak percaya padaku?" suara Aurelie bergetar. Tatapannya bergantian mengarah kepada Arsen, Sambara, lalu Agnira. Air mata kembali memenuhi pelupuk matanya.Tak seorang pun langsung menjawab. Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan. Aurelie tertawa lirih. Tawanya terdengar hambar, dipenuhi kepahitan."Orang tuaku baru saja meninggal," bisiknya. "Aku kehilangan segalanya."Tatapannya jatuh pada kedua telapak tangannya yang masih dipenuhi goresan luka. "Dan sekarang kalian menganggapku pelakunya?"Aurelie menundukkan kepala, bahunya bergetar, isak tangis mulai terdengar. Hal itu mengundang simpati dari Agnira. Wanita itu mendekat, menyentuh bahu Aurelie pelan."Aurelie ..." bisiknya lirih. "Tenangkan dirimu dulu."Begitu merasakan sentuhan itu, tangis Aurelie pecah semakin keras. Bahunya berguncang hebat. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah tak lagi memiliki tenaga untuk menahan seluruh beban yang menghimpit dadanya."Aku benar-benar
Suara tangis Aurelie terhenti seketika. Wanita itu memegangi kepala yang terasa perih akibat jambakan kuat Sambara."A-apa ...?" bibirnya bergetar menahan sakit.Sambara masih mencengkeram rambut wanita itu. Tatapannya begitu dingin hingga membuat suhu ruangan seolah ikut turun beberapa derajat."Sambara ... sakit," lirih Aurelie."Jawab pertanyaan saya," desis Sambara tajam.Ruangan yang semula dipenuhi suasana duka mendadak berubah mencekam. Hening yang pekat seolah menyesakkan dada setiap orang di dalamnya. Sudut bibir Sambara perlahan terangkat membentuk seringai tipis—senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan. Robi dan Nayara sama-sama mengenali ekspresi itu. Sebab, setiap kali senyum tersebut muncul, hanya ada satu pertanda, seseorang akan segera menerima konsekuensi dari perbuatannya, dan pasti akan ada orang yang lenyap sebentar lagi."Mas!" Agnira refleks meraih lengan Sambara. "Apa yang kamu lakukan?"Tanpa mengalihkan pandangan dari Aurelie, Sambara melepaskan cengkeraman
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak







