"Kau mau kemana, Sweetheart?" tanya Raigen, menatap istrinya dengan sebelah alis yang terangkat. Di tangannya ada nampan, berisi semangkuk bubur, buah potong, dan segelas air putih. Inggita tak langsung menjawab karena dia tertegun menatap Raigen yang sedang membawa nampan. U-untuk siapa bubur yang Raigen bawa? "Kerja, Mas," jawab Inggita pelan dan gugup, kembali menatap nampan di tangan suaminya. "Kembali ke kamar, Sweetheart," ucap Raigen, menatap penuh isyarat supaya Inggita masuk ke kamar. Inggita menetap ke pergelangan tangan, memeriksa jam apakah dia masih sempat. Sebenarnya percuma karena dia sudah sangat terlambat. Akan tetapi, … gaya biar terlihat sibuk! Setelah itu Inggita kembali ke dalam kamar, menuruti perkataan suaminya. Raigen juga ikut masuk, ke jalan ke arah sofa—meletakkan nampan di atas meja. "Gita, kemari," titah Raigen. Nadanya lembut dan hangat. Inggita menganggukkan kepala lalu segera berjalan mendekat ke arah Raigen. "Sarapan," ujar Raige
Read more