Masuk"Benar, Sweetheart?" tanya Raigen sambil menatap Inggita dengan ekspresi wajah tegas. Suaranya memang lembut tetapi tatapannya mengintimidasi. Inggita yang duduk di samping Raigen yang sedang mengemudi, menatap pria itu dengan gugup. Ekspresi Inggita tampak kaget, tak menduga jika Aluna akan mengadukan hal tadi pada Raigen. "U'um." Inggita menganggukkan kepala secara pelan, "tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan kok, Mas. Soalnya staf barunya masih anak-anak."Raigen menatap sejenak pada Inggita. "Anak-anak?" "Iya. Masih 23 tahun. Untuk di zaman sekarang sih, itu masih tergolong remaja. Masih belum dewasa dan labil itu," jelas Inggita, benar-benar tak ingin memperpanjang masalah tadi. Untuk masalah tadi, Inggita menganggapnya sebagai masalah salah paham saja. Mungkin si staff baru sedang lelah campur ada masalah pribadi, makanya dia melampiaskan kekesalannya pada orang lain. "Usiamu dengannya hanya beda 3 tahun, Sweetheart." Raigen berkata pelan, "kau juga masih anak-anak, jadi
"Jujur iya," ucap Inggita sambil menatap kesal pada staf baru tersebut. Dia meneguk saliva susah payah, bukan karena takut tetapi sebagai bukti betapa jengkelnya dia pada sosok perempuan yang saat ini sudah di depannya. "Ouh, berarti yang kuomongin barusan benar dong, Kak?" Perempuan itu menaikkan alis, semakin menatap remeh pada Inggita, "ternyata Kakak juga merasa yah kalau Kakak ini semena-mena setelah mendapat gelar sebagai CEO dari Des'Art?" "Nggak juga." Inggita berkata cukup tenang, mencoba menahan emosi karena masih mengingat posisinya. Yah, dia asisten Aluna yang sudah banyak menghadapi masalah yang menguji emosi. Dia tidak boleh terpancing begitu saja pada anak ingusan ini, "aku hanya tak suka pada sikapmu yang menjuruh ke arah keributan dan perselisihan." Dinda—staff baru tersebut bersedekap angkuh, menatap Inggita dari atas hingga bawah lalu senyum sinis pada Inggita. "Kalau kamu nggak suka, yah, itu urusan kamu, Kak. Ahahaha … sepertinya Kakak benar-benar merasa tingg
"Kau mau kemana, Sweetheart?" tanya Raigen, menatap istrinya dengan sebelah alis yang terangkat. Di tangannya ada nampan, berisi semangkuk bubur, buah potong, dan segelas air putih. Inggita tak langsung menjawab karena dia tertegun menatap Raigen yang sedang membawa nampan. U-untuk siapa bubur yang Raigen bawa? "Kerja, Mas," jawab Inggita pelan dan gugup, kembali menatap nampan di tangan suaminya. "Kembali ke kamar, Sweetheart," ucap Raigen, menatap penuh isyarat supaya Inggita masuk ke kamar. Inggita menetap ke pergelangan tangan, memeriksa jam apakah dia masih sempat. Sebenarnya percuma karena dia sudah sangat terlambat. Akan tetapi, … gaya biar terlihat sibuk! Setelah itu Inggita kembali ke dalam kamar, menuruti perkataan suaminya. Raigen juga ikut masuk, ke jalan ke arah sofa—meletakkan nampan di atas meja. "Gita, kemari," titah Raigen. Nadanya lembut dan hangat. Inggita menganggukkan kepala lalu segera berjalan mendekat ke arah Raigen. "Sarapan," ujar Raige
"Ta-tapi aku mau lepas kacamata biar nggak gugup," ungkap Inggita. Raigen yang sudah menunjukkan ekspresi senang, langsung menatap dingin dengan raut muka kesal pada Inggita. Dia memang senang perempuan ini mengungkapkan hal yang Raigen perintahkan tadi. Akan tetapi, tiba-tiba Inggita ingin melepas kacamanya. Bukankah ini menunjukan ketidak inginan Inggita padanya? "Katakan saja supaya kau tidak melihatku, Inggita Larasati Adam!" dingin Raigen. "Aku nggak buta yah, Mas," protes Inggita, "aku cuma rabun," sebal Inggita. "Yah, aku tahu. Tapi tujuanmu melepas kacamata memang itu kan? Agar kau tidak melihat wajahku," tuduh Raigen lagi, sudah duduk karena mendadak kesal pada Inggita. Apa yang salah dari wajahnya? Kenapa Inggita setidak ingin itu untuk melihatnya? "Sekalipun aku buka kacamata kalau jaraknya sedekat ini, muka Mas masih kelihatan kali. Yah, rada burem dikit doang, nggak terlalu HD. Tapi kan tetap lihat," jawab Inggita, tanpa sadar mengeluarkan skin cerewetn
"Mas, aku mau lewat," ucap Inggita dengan suara kecil saking takutnya pada Raigen yang menghadang di ambang pintu walk in closet. Demi Tuhan! Sekalipun pria ini tampan maksimal dan cold, tapi kali ini entah kenapa di penglihatan Inggita, Raigen terlihat seperti preman depan gang yang suka mengganggu anak gadis. Maksud Raigen apa, coba, tiba-tiba berdiri di ambang pintu walk in close lalu menghadangnya?! Sejujurnya Inggita merasa sejak tadi Raigen ini … lumayan menakutkan. Jujur saja Inggita merinding disko! Ah yah, saat ini Inggita sudah di rumah—lebih tepatnya dalam kamar. Dia habis mandi dan berniat mengnanti pakaian ke walk in closet. Itu karena lagi-lagi Inggita lupa membawa pakaian ganti saat mandi—kondisinya sekarang hanya mengenakan handuk, dan dia sangat malu sebab Raigen terus memperhatikan serta enggan membiarkannya masuk ke walk in closet. Oh yah, tadi sehabis dari pameran, Raigen membawa Inggita ke kantor pria itu sendiri. Selama di sana, Inggita tak melakuka
Raigen bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekat ke arah seorang perempuan yang sepertinya sedang mencari keberadaan seseorang. Cih, memangnya mata yang sudah dinerf oleh Sang Pencipta ini masih bisa menatap jelas, heh? "Eh." Inggita mendongak ke arah seorang pria yang tiba-tiba berdiri di depannya. Sayang sekali, Inggita tak bisa melihat wajah pria itu secara jelas sekalipun jarak pria ini tergolong dekat. Itu karena lampu pada bagian tamu undangan tiba-tiba redup, mungkin supaya para tamu undangan sekaligus penonton fokus memperhatikan seniman di depan yang sedang menjelaskan karyanya. Seandainya Inggita mengenakan kacamata, dia pasti melihat jelas wajah pria ini. Tapi kenyataannya Inggita sedang melepas kacamatanya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Inggita sopan, masih mendongak dan menatap sosok pria yang menjulang tinggi di depannya. Tuk' Tiba-tiba saja pria itu menyentil kening Inggita, membuat Inggita melebarkan mata sambil menatap horor pada pria itu.
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak







