Akhirnya, Dewa memilih kembali ke apartemen utama.Dewa memarkir mobilnya di basemen penthouse dengan gerakan mekanis yang kaku. Ia mematikan mesin, namun tetap diam di balik kemudi."Tadi itu jebakan," monolognya dalam sunyi kabin yang pengap. "Dia tidak membuntuti. Dia hanya sengaja membiarkanku pergi untuk melihat seberapa jauh nyaliku untuk berkhianat. Dan sekarang, aku harus kembali ke kandang singa."Dewa menarik napas dalam, membuang sisa kecemasannya, lalu menata ekspresi wajahnya menjadi topeng datar yang tak terbaca. Ia melangkah keluar, masuk ke lift pribadi, dan menekan tombol lantai teratas.Begitu pintu penthouse terbuka, aroma melati yang pekat langsung menyambutnya, terlalu pekat, hingga terasa menyesakkan. Niskala sudah duduk di sofa beludru, menyesap segelas anggur merah dengan kaki jenjang yang disilangkan anggun. Ia tidak menoleh, tapi suaranya langsung memecah keheningan."Vila itu terlalu dingin untuk suasana hati yang sedang tidak stabil, Dewa. Kenapa tidak pula
Read more