"Tunggu!" sergah Tifani, suaranya pecah di antara isak yang tertahan. Ia bangkit dengan sisa tenaga yang ada, mencoba menggapai lengan pria itu. "Angga, kumohon... bantu aku pergi dari sini."Angga berbalik perlahan. Tatapannya dingin, setajam silet, menusuk tepat ke manik mata Tifani yang bergetar."Aku akan memberimu segalanya," lanjut Tifani, suaranya kini terdengar memohon, menyeret penuh keputusasaan. Air mata menderas, membasahi pipinya yang pucat. "Apa pun yang kau mau, harta, posisi ... aku akan berikan semuanya padamu, Angga!"Angga tampak bergeming. Sedikit pun rasa iba tidak melintas di wajahnya yang kaku. Ia mencondongkan tubuh, memangkas jarak di antara mereka hingga napasnya terasa di pelipis Tifani. Dengan nada rendah yang penuh penekanan, ia berbisik, "Bahkan jika kau sanggup menjanjikan seisi dunia ini di telapak tanganku, aku tidak akan sudi menerimanya, Tifani."Angga menegakkan tubuhnya kembali, merapikan setelan jasnya dengan gerakan yang presisi. "Aku bekerja unt
Mehr lesen