Malam semakin larut, tetapi apartemen itu masih dipenuhi cahaya hangat dari lampu ruang tengah. Televisi di depan mereka tetap menyala, meski suaranya pelan sekali, nyaris hanya menjadi latar yang tidak benar-benar diperhatikan. Gambar di layar terus berganti, tetapi baik Yusallia maupun Rionegro sama-sama tidak mengikuti apa yang sedang diputar. Keduanya berada di ruangan yang sama, duduk tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh, dengan keheningan yang tidak lagi setegang pagi tadi, tetapi juga belum cukup akrab untuk disebut nyaman. Yusallia memeluk bantal kecil di pangkuannya. Pandangannya sesekali jatuh ke layar televisi, lalu melayang begitu saja ke arah jendela besar yang kini hanya memantulkan cahaya lampu dari dalam apartemen. Di luar, Jakarta masih hidup dengan lampu-lampu gedung dan jalanan yang tak pernah benar-benar tidur. Di dalam, suasana terasa jauh lebih tenang. Terlalu tenang, kadang-kadang. Setelah be
Read more