Senin sore datang dengan lelah yang menempel pelan di tubuh Yusallia.Sejak pagi, rumah sakit seperti tidak benar-benar memberinya ruang untuk berhenti. Pasien datang silih berganti, masing-masing membawa cerita, kecemasan, dan luka yang harus ia dengarkan dengan kepala jernih. Di sela-sela itu, ada juga tubuhnya sendiri yang mulai semakin mudah terasa berat. Bukan lelah yang mencolok, bukan pula sesuatu yang langsung terlihat orang lain. Hanya semacam capek yang menetap di bahu, di pinggang, dan di napasnya yang kadang harus ia atur lebih sabar dari biasanya.Saat pasien terakhir akhirnya keluar dari ruang praktik, Yusallia tidak langsung berdiri.Ia duduk diam beberapa saat di kursinya, membiarkan ruangan itu kembali sunyi. Tangannya masih berada di atas map pasien terakhir, tetapi matanya tidak lagi membaca apa pun. Pikirannya sudah melayang ke banyak aara, dan satu di antaranya terus kembali pada pesan dari Bryan.Pesan itu masuk di sela-sela
Read more