Hari kelima festival membawa suasana yang semakin gerah. Udara malam di istana kerajaan terasa berat, dipenuhi alunan musik gesek yang berdengung lambat di telinga. Di sudut balairung, Pangeran Julian berdiri sambil memegang gelas perak, matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Celina. Lucien, yang berdiri di samping Celina, merasakan rahangnya mengetat hebat. "Dia menatapmu lagi," desis Lucien rendah, suaranya bergetar menahan amarah yang siap meledak kapan saja. "Biarkan saja, Lucien," jawab Celina dingin, mencoba tetap tenang di hadapan para tamu penting. "Jangan membuat keributan di tengah jamuan makan malam kerajaan ini." "Aku sudah lelah membiarkannya," potong Lucien tajam. Ia meletakkan gelasnya dengan kasar di atas nampan pelayan yang lewat, lalu meraih pergelangan tangan Celina. "Kita pergi dari sini sekarang." "Lucien, lepaskan! Semua orang sedang melihat kita!" protes Celina sambil mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman suaminya terlalu erat. Tanpa memperdulikan
Read more