Cengkeraman Lucien di bahu Celina perlahan mengendur saat deru napas istrinya yang memburu menyadarkannya. Celina menepis tangan suaminya dengan kasar, melangkah mundur hingga punggungnya membentur meja rias. Wajahnya pucat, namun tatapannya menyalang penuh kebencian. "Lakukan itu," tantang Celina tajam, suaranya bergetar hebat menahan amarah. "Rantai aku, Lucien. Jadikan aku tahanan sejati di istana ini, dan saksikan bagaimana aku meremukkan sisa-sisa rasa hormat yang kumiliki padamu." Lucien tertegun, tangannya yang masih tergantung di udara mengepal kuat. "Bukannya begitu maksudku, Celina..." "Lalu apa?!" potong Celina membentak, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi. "Setiap kali kau cemburu, setiap kali ketakutanmu mengambil alih, caramu selalu sama: mengurung, membentak, dan merampas pilihanku! Aku bukan barang rampasan perang yang bisa kau simpan di lemari kaca!" Tanpa menunggu balasan, Celina menyambar jubah beludru hitamnya dari sandaran kursi, lalu bergegas menuju pi
Read more