Suara dentingan lonceng kecil di pintu utama dapur berpadu dengan deru angin sore yang mulai mendingin di luar jendela. Di dalam ruangan yang hangat berkat pijar tungku batu, aroma manis karamel dan pangkuan apel berpadu sempurna, menguar ke setiap sudut ruangan. Celina duduk di kursi kayu bersandaran tinggi, mengayunkan kakinya pelan sambil menatap ke arah oven batu. Di sampingnya, Lucien berdiri dengan lengan kemeja yang masih digulung, memegang sarung tangan kain tebal di kedua tangannya. Pria itu tampak siaga seolah sedang bersiap menghadapi medan pertempuran paling berbahaya. "Sudah waktunya, Lucien," tegur Celina tak sabar, menunjuk loyang di dalam oven dengan dagunya. "Kalau terlalu lama, bagian pinggirnya bisa gosong." "Tenanglah, Grand Duchess. Aku tahu persis kapan waktu yang tepat untuk menariknya," balas Lucien tenang, meski keningnya sedikit mengerut serius. Dengan gerakan cepat dan terukur, Lucien membuka pintu besi oven. Hawa panas langsung mengepul keluar, membawa a
อ่านเพิ่มเติม