Pagi itu, mereka berjalan menyusuri pelataran istana yang kini sedang dalam tahap pemugaran. Tanpa bantuan "perintah administrator", pembangunan berjalan lebih lambat. Para pekerja menggunakan palu, paku, dan keringat. Tidak ada bangunan yang muncul secara instan dalam semalam. Namun, bagi Celina, setiap bata yang diletakkan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada istana digital mana pun. "Nyonya! Tuan Lucien!" Julian berlari menghampiri mereka. Mantan teknisi itu kini mengenakan pakaian yang lebih praktis, tangannya kotor oleh oli dan debu tanah. "Sistem irigasi di Sektor Barat telah selesai. Kita menggunakan aliran air dari pegunungan. Tanahnya sangat subur, Nyonya. Benih-benih yang kita bawa mulai bertunas." Celina tersenyum lebar. "Bagus, Julian. Kita tidak butuh keajaiban lagi. Kita hanya butuh kesabaran." Namun, di tengah kegembiraan itu, Celina merasakan sebuah kekosongan. Memorinya tentang Bumi—tentang New York, gedung pencakar langit, dan teknologi modern—telah me
Last Updated : 2026-04-30 Read more