Kobaran api merah dengan cepat melingkari dinding batu ruangan bawah tanah yang sempit itu, memunculkan suara berderak nyaring yang memecah kesunyian malam. Asap tipis mengepul pekat, membawa hawa panas yang menyengat kulit. Di tengah kobaran api yang kian meninggi, sosok pria berjas hitam elegan berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyumen sinis yang dingin. "Ethan Vane..." desis Lucien penuh amarah, manik matanya menyalang tajam. Tanpa ragu, Lucien langsung mengarahkan ujung pedangnya tepat ke dada pria itu. "Kau seharusnya sudah membusuk di tiang gantung ibu kota lima tahun lalu!" Ethan tertawa kecil, suara tawanya terdengar bergaung di antara deru api. Ia melangkah maju perlahan, mengabaikan ujung pedang tajam yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari jantungnya. "Mati? Ah, Grand Duke yang terhormat, kematian adalah hukuman yang terlalu mudah bagi pengkhianat. Aku hanya memalsukan eksekusiku, sementara orang-orang bodoh di istana mengira aku te
Read more