공유

Bab 70

작가: Leachaa1
last update 게시일: 2026-04-30 21:33:32
Kobaran api merah dengan cepat melingkari dinding batu ruangan bawah tanah yang sempit itu, memunculkan suara berderak nyaring yang memecah kesunyian malam. Asap tipis mengepul pekat, membawa hawa panas yang menyengat kulit. Di tengah kobaran api yang kian meninggi, sosok pria berjas hitam elegan berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyumen sinis yang dingin.

"Ethan Vane..." desis Lucien penuh amarah, manik matanya menyalang tajam. Tanpa ragu, Lucien langsung me
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 122

    ."Ingat aturan mainnya! Siapa yang tertangkap pertama kali oleh penjaga labirin, dia yang kalah dan harus mengakui kalau dirinya payah!" seru Keenan Lightmore—yang kini berusia lima tahun—sambil mengacungkan pedang mainan kayunya tinggi-tinggi ke udara.Laluna Valois, yang mengenakan gaun terusan putih berenda biru muda, berkacak pinggang menatap sepupunya dengan tatapan menantang. "Mana mungkin aku tertangkap, Keenan! Aku tahu setiap jalur di labirin ini!" balas Luna riang, lalu menarik tangan Kayla Lightmore yang berdiri di sampingnya. "Ayo, Kayla, kita sembunyi di dekat air mancur tengah!"Kayla, yang berusia empat tahun dengan rambut dikuncir dua, mengangguk antusias sambil tersenyum lebar. "Ayo! Kita sembunyikan mahkota kertas milikku supaya tidak direbut Kakak Ashlan!" serunya cadel, lalu berlari kencang mengikuti Luna memasuki lorong labirin yang dipenuhi duri-duri mawar tanpa bunga tajam.Di dekat gerbang masuk, Ashlan Valois—yang berusia enam tahun dengan setelan jas mini hi

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 121

    Suara lonceng angin perak berderit merdu di teras kediaman keluarga Lightmore. Sinar matahari pagi musim panas memantul di atas permukaan lantai batu pualam yang bersih, menyinari halaman belakang tempat sarapan keluarga besar baru saja disiapkan di atas meja kayu mahoni yang panjang."Keenan, jangan berlari sambil memegang garpu! Nanti kau tersandung!" seru Marry memperingatkan putranya yang berlari kecil mengenakan seragam latihan militer miniatur.Keenan Lightmore, yang kini berusia lima tahun, menghentikan langkahnya sambil cengengesan. "Hehe, maaf, Ibu! Aku hanya ingin menunjukkan pedang kayunya pada Paman Raja!" balas Keenan riang, lalu melompat duduk di kursi sebelah adiknya.Di seberang meja, Kayla Lightmore—yang berusia empat tahun dengan rambut dikuncir dua—mengayun-ayunkan kakinya kegirangan sambil menatap piring roti mentega di depannya. "Ibu, hari ini kita ke istana besar lagi, kan? Kayla mau main dengan Kakak Ashlan!" seru Kayla antusias.Cedric Lightmore yang duduk di u

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 120

    Di atas podium utama, Lucien berdiri tegak dengan jubah kebesaran keluarga kerajaan Valois berbulu ermine di pundaknya. Di sebelahnya, Celina mengenakan gaun panjang sutra putih berbordir benang emas murni dengan mahkota berlian berkilau anggun melingkar di kepala indahnya. Upacara penobatan resmi telah mengubah status mereka menjadi Raja dan Ratu Valois. "Dengan restu para leluhur dan persetujuan seluruh dewan kehormatan, ketaatan kami persembahkan kepada Yang Mulia Raja Lucien dan Ratu Celina!" seru suara ketua dewan istana menggema ke seluruh sudut ruangan. Gemuruh tepuk tangan riuh pecah seketika dari para panglima, bangsawan, dan pelayan istana yang berbaris rapi di bawah aula. Di barisan depan para bangsawan kehormatan, Cedric berdiri dengan balutan seragam militer panglima tertinggi berhiaskan lencana emas berkilau. Di sampingnya, Marry tampak anggun mengenakan gaun formal berwarna safir tua, dengan rambut cokelatnya yang disanggul rapi berhias permata kecil. Sejak hari pen

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 119

    "Keenan, jangan berlari di dekat kolam! Kakimu bisa terpeleset!" seru Marry memperingatkan putranya sambil meletakkan nampan piring berisi buah segar di atas meja kayu bundar. Keenan, yang kini berusia lima tahun, menghentikan langkahnya seketika. Bocah laki-laki itu cengengesan sambil memegang pedang kayu mainannya. "Hehe, maaf, Ibu! Aku hanya mau mengejar kupu-kupu besar itu!" jawab Keenan cepat, lalu melompat riang ke arah semak-semak mawar putih. Laluna, yang duduk manis di kursi taman mengenakan gaun kuning muda, tertawa renyah melihat tingkah sepupunya. "Kupu-kupunya tidak akan tertangkap kalau kau berteriak kencang begitu, Keenan!" ledek Luna dengan suara riang, menyuapkan sepotong kue stroberi ke mulut kecilnya. Di seberang meja, Ashlan duduk dengan postur tegap sempurna. Bocah enam tahun berambut hitam itu meneguk susu hangatnya dalam diam, memasang ekspresi datar dan cuek seolah keributan di sekitarnya sama sekali tidak menarik perhatiannya. *Tap... tap... tap...* Suar

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 118

    Kring... churr...Suara lonceng angin perak di dekat jendela ruang makan utama paviliun Valois berderit pelan menyambut malam. Di dalam ruangan yang diterangi cahaya temaram lampu gantung kristal, meja makan panjang tampak penuh dengan berbagai hidangan lezat yang mengepulkan uap hangat.Celina duduk di kursi utama, meletakkan serbet kain di pangkuannya sambil tersenyum menatap anak-anak yang mulai mengambil tempat duduk masing-masing."Cuci tangan kalian dulu, jangan langsung memegang roti," nasihat Celina lembut kepada Keenan dan Luna yang duduk berdampingan."Sudah, Bibi Celina! Kami sudah mencuci tangan di kolam tadi!" jawab Keenan cepat, langsung menarik piring sup daging di hadapannya."Keenan, cuci tangan di wastafel dapur, bukan di kolam ikan hias Ayah," tegur Cedric tegas dari kursi sebelah, melirik putranya dengan tatapan tajam seorang panglima perang.Keenan nyengir lebar, menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Hehe, air kolamnya kan bersih, Ayah..." bela Ke

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 117

    Kring... churr...Suara gemercik air mancur batu marmer putih di sudut halaman istana berpadu harmonis dengan gelak tawa anak-anak yang berlarian di atas rerumputan hijau. Langit sore ibu kota memancarkan bias keemasan, menghangatkan suasana paviliun utama Valois yang selalu ramai oleh kehadiran si kecil."Kejar aku kalau bisa, Kakak Luna!" seru Keenan—putra sulung Cedric yang kini berusia lima tahun—sambil berlari kencang memegang pedang mainan kayunya.Laluna, yang kini berusia enam tahun, berbalik dengan cepat lalu mempercepat langkahnya mengejar sang sepupu. Rambut ikalnya melayang diterpa angin sore. "Awas ya, Keenan! Jangan lari ke arah kolam ikan!" teriak Luna memperingatkan sambil tertawa renyah.Di dekat bangku kayu panjang, Celina duduk santai bersama Marry. Mereka memperhatikan tingkah anak-anak sambil menikmati secangkir teh harum."Waktu berjalan begitu cepat, Marry. Rasanya baru kemarin kita merayakan pernikahanmu, dan sekarang anak-anak sudah sebesar ini," ucap Celina l

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 6

    Malam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 5

    Keesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru t

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 4

    Setelah insiden di lapangan latihan, desas-desus tentang "Kegilaan Baru" Grand Duchess menyebar seperti api di antara para pelayan dan ksatria. Namun, Celina tidak peduli. Baginya, status sosial di dunia ini hanyalah modal untuk mencapai satu tujuan: kemandirian finansial. Celina menghabiskan tiga

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 3

    Udara pagi di wilayah Valois terasa sangat menggigit. Embun tipis masih menyelimuti lapangan latihan yang terletak di bagian belakang kastil, menciptakan suasana yang remang dan mistis. Suara dentingan logam yang beradu memecah kesunyian pagi, diikuti oleh teriakan-teriakan komando dari para instruk

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status