“Ibu, nanti Kai disuntik ya?” Kaisar bertanya dengan wajah polos. Saat ini mereka sudah berada di ruang tunggu psikolog anak. Zivanya mengusap lembut kepala putranya, mencoba menenangkan keresahan yang mulai terlukis di wajah sang putra. "Nggak, Sayang. Tadi, kan, Ibu sudah bilang, ini cuma tempat ‘dokter pintar’. Di sini kita cuma main, cerita-cerita, sama gambar-gambar. Nggak ada suntik, nggak ada sakit-sakit." "Benal?" Kaisar menimbang-nimbang jawaban ibunya. "Benar. Ibu janji.” Zivanya tersenyum tipis melihat raut putranya yang berangsur lega. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang psikolog wanita yang ramah muncul dengan senyum hangat. Ia mempersilakan Zivanya, Kaisar, termasuk Seruni yang sejak tadi mengekor di belakang, untuk masuk ke dalam ruangan. Sesi terapi bermain pun dimulai. Zivanya dan Seruni diminta duduk di sofa yang agak jauh, membiarkan Kaisar berinteraksi dengan Dita–nama psikolog tersebut–di meja kecil yang dipenuhi gambar dan balok kayu.
อ่านเพิ่มเติม