Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / Kampung Gaib (Bab. 1)

Share

Kampung Gaib (Bab. 1)

Author: Diah Pitasari
last update publish date: 2026-09-06 22:28:13

Siang hari di Desa Cialas.

Mak Acih baru saja mengucap salam dan berzikir singkat sehabis menunaikan Shalat Zuhur, ketika suara ketukan di pintu kayu rumahnya memecah keheningan siang.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam," sahut Mak Acih dari dalam. Ia bergegas berdiri, melangkah menuju pintu tanpa sempat melepas mukenanya. Dalam hati bertanya-tanya, siapa yang datang bertamu di waktu tengah hari begini?

Saat pintu dibuka, sesosok pria berdiri di teras. Pria itu tersenyum ramah, lalu sedik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 1)

    “Mak, Abah sudah ketemu!” teriaknya dari luar bilik pemandian jenazah perempuan.Mak Acih terpaku sesaat. Jantungnya berdetak kencang, sementara tubuhnya mendadak lemas. Samih dan keluarga Carwen, jenazah yang sedang dimandikan, langsung tanggap, dan memegangi tubuhnya agar tak terjatuh.“Nanti, Nang. Emak lagi tanggung,” sahut Mak Acih, dari dalam bilik pemandian.“Ternyata, jenazah Abah benar tertimbun pohon asem yang roboh, Mak.” Nanang berteriak lagi dari luar.“Iya, Nang,” sahut Mak Acih.“Sudah. Ema

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 8)

    “Tadi itu benar Teh Epih sama Anah, Mak?” tanya Samih khawatir, saat melihat Mak Acih dan Neneng memasuki bilik pemandian. Saat itu, ia sedang menggantikan Mak Acih memandikan jenazah salah seorang warga desa.“Iya, Mih.” Mak Acih tertunduk lesu. Mengusap air matanya yang kembali mengalir.Samih ikut menangis sesenggukan. Apa yang menjadi kekhawatirannya benar-benar terbukti. Sejujurnya ia ingin menangis berteriak-teriak untuk melegakan perasaan dan rasa sesak di dada, tapi ia meyakinkan diri, bahwa itu tak ada gunanya. Toh, tidak akan bisa menghidupkan kembali jasad sang kakak sepupu dan keponakan. Samih tetap meneruskan memandikan jenazah membantu sang Ibu, sementara Neneng berada di dalam rumah, bertugas mengafani jenazah.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 7)

    RT Madun menyampaikan laporan Mak Acih pada Ustadz Agum, mengenai berkurangnya stok kain kafan.“Ya sudah, dikafaninya tunggu Kaling datang saja.” Maman, salah seorang warga memberi saran.“Tidak perlu seperti itu. Dalam kondisi darurat seperti sekarang, diperbolehkan membungkus jenazah hanya dengan satu lapis kain saja, tidak usah sampai berlapis-lapis seperti mengafani jenazah dalam kondisi normal. Malah kalau benar-benar tidak ada kafan sama sekali, bisa menggunakan kain apa saja, kain batik misalnya. Sebab, penggunaan kain kafan berwarna putih, adalah sunah dan kebiasaan saja.” Ustadz Agum menjelaskan panjang lebar di sela-sela kegiatannya memandikan jenazah korban longsor.Ia tak

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 6)

    Sore itu, Mak Acih sudah memandikan empat jenazah. Rasa lelah mulai mendera, fisik tuanya tak lagi bisa diajak berkompromi. Udara dingin pegunungan makin membuatnya tak sanggup melanjutkan proses pemandian. Ia meminta Neneng untuk bertukar posisi. Namun sebelumnya, ia ingin memandikan jenazah Edoh dan Cicih terlebih dahulu untuk yang terakhir.Mak Acih terpaku. Menatap jenazah Edoh si putri sulung yang terbaring kaku di hadapannya. Cahaya mata pertama bersama sang suami, yang sampai kini belum jelas keberadaannya.Masih jelas dalam ingatan. 45 tahun lalu, saat pertama kali memandikan Edoh yang masih bayi merah, membasuh tubuhnya dengan air hangat dan sabun, lalu mengeringkannya dengan hati-hati.Sesekali ia bercand

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 5)

    “Tolong carikan Abah. Dalam keadaan apa pun. Emak mau melihat Abah buat yang terakhir kali. Cari di tempat korban selamat juga,” pesan Mak Acih saat melepas Nanang dan Jaya, untuk mencari korban longsor yang lain.Surip tidak ikut, karena ia ingin membantu mengurus jenazah Edoh dan Cicih.Sementara Mak Acih, atas perintah RT Madun, segera bersiap untuk memandikan jenazah korban, selagi jasad mereka masih dalam keadaan bagus. Lebih cepat, lebih baik.Warga desa yang selamat, ikut bahu membahu menanggapi bencana ini.Ada yang membantu membuat dapur umum. Ada yang membantu mencari korban di bawah reruntuhan.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 4)

    “Mak! Emak!” tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil namanya.Mak Acih menoleh, dan mendapati Samih, Nanang, dan Jaya, suami Samih berlari menghampirinya dengan wajah panik. Mata mereka sembab karena menangis.Tanpa banyak kata, mereka langsung saling memeluk, berangkulan, seraya menangis sesenggukan, berbagi beban kesedihan bersama“Teh Edoh. Cicih. Mereka semua meninggal.” Mak Acih berkata tergagap. Mendengar nama Edoh dan Cicih disebut, Samih langsung berteriak histeris, meraung-raung memanggil-manggil nama Almarhumah kakak dan sang keponakan.Sampai Mak Acih akhirnya turun tangan, ia memeluk tubuh sang putri era

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status