Share

Kampung Gaib (Bab 2)

Author: Diah Pitasari
last update publish date: 2026-09-07 14:51:07

Setelah itu, keheningan kembali menyelimuti mereka. Mak Acih terdiam, kehilangan seluruh keinginan untuk bertanya lagi, membiarkan dirinya dibawa menembus tempat asing yang ia sendiri tidak tahu.

Motor tiba-tiba melambat dan berhenti tepat di depan sebuah rumah panggung berukuran sangat besar. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan kayu hitam, dengan atap serabut alang-alang kering yang tebal.

Rumah itu tampak kuno, seperti bangunan dari abad lampau. Namun entah bagaimana, memancarkan aura
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    WARISAN HAJAH HALIMAH (Bab 1)

    Siang hari di Desa Cialas selalu terasa sejuk, meski matahari sedang bersinar terik.Mak Acih sedang duduk-duduk di balai bambu, menikmati teh hangat dan rebusan singkong bersama Aki Amin, ketika terdengar pengumuman dari sepiker masjid desa. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un ... Telah berpulang ke Rahmatullah, Ibu Hajah Halimah, dalam usia enam puluh tahun ..." Mak Acih dan Aki Amin serempak menghentikan kunyahan mereka dan berbarengan mengucap kalimat Istirja’. “Innalilahi wa Innailaihi Raji’un ...” “Kasihan Ceu Halimah. Berbulan-bulan sakit, kirain bakal sembuh,” kata Mak Acih seraya menghela nafas panjang. “Namanya juga umur, Mak.” Aki Amin meminum teh manisnya. “Hayu kita berangkat ke rumah Almarhumah.” Pria sepuh itu bangkit dari duduknya. Mak Acih mengangguk. Ia berjalan menuju lemari, mengambil tas anyaman tempat penyimpanan perlengkapan memandikan jenazahnya.“Emak mau mampir ke rumah Neneng dulu, Bah. Mau ngajak barengan,” ujar Mak Acih sambil merapikan kerudungn

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab 6)

    Malam harinya di rumah MakAcihyang sepi. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar jendela dan detak jam dinding yang seolah berbunyi lebih nyaring dari biasanya.MakAcihduduk bersandar di bangku ruang tamu, wajahnya masih terlihat kebingungan. Aki Amin duduk di sampingnya, mengusap bahu istrinya dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab. 5)

    Tak lama berselang, motor itu berhenti tepat di depan pekarangan rumah Mak Acih. Mak Acih turun, merapikan isi di dalam tasnya, dan menatap Santang. "Nuhun nya, Jang, tos diantar jemput." Santang mengangguk, sedikit menundukkan kepalanya. "Sami-sami, Mak. Saya yang terima kasih banyak Emak sudah mau bantu. Saya pamit dulu." Tanpa menunggu balasan Mak Acih, Santang memutar gas. Anehnya, baru beberapa meter melaju melewati pagar halaman, suara mesinnya hilang seketika. Wujud motor dan tubuh Santang seakan memudar tersapu angin sore, lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak ban di jalanan tanah. Mak Acih mengerjap-ngerjapkan mata, masih mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Namun, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya dulu. Baru saja ia hendak memutar tubuh menuju pintu, telinganya menangkap suara dengung keramaian dari arah ruang tamu rumahnya. Banyak pasang sandal dan sepatu berserakan di teras. Pintu depan terbuka lebar. Dengan kening berkerut, Mak Acih melangkah masuk

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab 4)

    Di sekeliling jenazah yang sudah terkafani itu, belasan orang masih duduk bersimpuh membentuk barisan melingkar. Mulut mereka terus berkomat-kamit melantunkan ayat-ayat suci, menghasilkan suara dengungan datar yang menggema memantul di dinding-dinding kayu.Mak Acih duduk tepat di sebelah seorang perempuan berkerudung hitam yang sedari tadi menunduk. Sebagai orang desa yang terbiasa berkumpul dengan sesama warga, pantang bagi Mak Acih untuk sekadar diam tanpa bertegur sapa dengan pelayat lain.Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah perempuan itu, lalu menyunggingkan senyum ramah."Permisi, Teteh ... Teteh ini kerabatnya almarhumah?" sapa Mak Acih setengah berbisik, berusaha tidak mengganggu lantunan doa.Perempuan di sebelahnya sama sekali tidak menoleh. Matanya tetap menatap lurus ke arah lantai, sementara bibirnya terus bergerak dengan ritme yang cepat dan kaku.Mak Acih sedikit kebingungan. Ia mengira suaranya mungkin terlalu pelan. Ia pun beralih menatap seorang pria paruh baya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab. 3)

    Mak Acih melangkah perlahan menghampiri tubuh yang ditutupi kain batik tersebut. Di bagian atas kepala jenazah, terdapat secarik kertas usang dengan tulisan tangan.Nyi Gandasuri.Mak Acih menundukkan kepalanya dalam-dalam, memanjatkan doa untuk almarhumah. Setelah selesai mengusapkan tangan ke wajahnya, ia membuka sedikit kain penutup untuk menatap paras jenazah. Wajah itu pucat pasi, namun masih terlihat sangat muda dan cantik. Garis bibirnya diam menahan rahasia, membuat Mak Acih membatin, betapa ajal memang tak pernah bisa diduga kedatangannya."Di mana tempat pemandiannya, Jang? Langsung dibawa ke sana saja jenazahnya," kata Mak Acih memecah keheningan.Tanpa perlu diperintah dua kali, beberapa orang pelayat berwajah datar tadi langsung berdiri. Mereka mengangkat jenazah Nyi Gandasuri tanpa bersuara, membawanya ke area samping rumah. Di sana, sebuah dipan kayu sudah disiapkan, lengkap dengan ember tanah liat berisi air bunga kemerahan yang siap digunakan.Mak Acih mengikuti mere

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    Kampung Gaib (Bab 2)

    Setelah itu, keheningan kembali menyelimuti mereka. Mak Acih terdiam, kehilangan seluruh keinginan untuk bertanya lagi, membiarkan dirinya dibawa menembus tempat asing yang ia sendiri tidak tahu.Motor tiba-tiba melambat dan berhenti tepat di depan sebuah rumah panggung berukuran sangat besar. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan kayu hitam, dengan atap serabut alang-alang kering yang tebal. Rumah itu tampak kuno, seperti bangunan dari abad lampau. Namun entah bagaimana, memancarkan aura megah dan wibawa dingin yang membuat siapa pun sungkan menatapnya terlalu lama."Sudah sampai, Mak," kata Santang sambil menurunkan standar motornya.Mak Acih mengernyitkan kening. Sudah sampai?Ingatan tua Mak Acih berputar. Desa Cikelor pasti letaknya sangat jauh karena sama sekali tidak berbatasan dengan Cialas. Padahal, ia merasa perjalanan naik motor tadi baru berjalan kira-kira sepuluh menit. 'Jangan-jangan si Santang ini membohongi saya? Apa kami sebenarnya masih muter-muter di kawasan D

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status