Suara deru mesin mobil yang berhenti mendadak memecah keheningan pelataran rumah mewah Adista."Hana, kunci pintu depan dari dalam," perintah Adista dengan suara tajam. "Jangan biarkan siapa pun keluar dari rumah ini tanpa izinku.""Baik, Bu Adista," jawab Hana.Adista melangkah lebar dengan rahang terkatup rapat. Matanya yang sembap kini memancarkan kilatan amarah yang menyala-nyala. Di ruang keluarga, Tante Rosa tengah duduk bersantai di sofa, menyesap teh kamomil dengan raut wajah yang berpura-pura cemas."Tante Rosa!" panggil Adista lantang.Rosa terkesiap, cangkir tehnya sedikit berguncang."Astaga, Adista! Bikin kaget saja. Kamu sudah pulang? Lalu, bagaimana keadaan Fero? Ya ampun, Tante dari tadi tidak bisa tenang memikirkan suami kamu. Fero baik-baik saja, kan, Sayang?""Tidak usah bersandiwara lagi di depanku, Tante.""Bersandiwara? Bicara apa kamu ini, Dis? Tante benar-benar khawatir!""Khawatir?" potong Adista sinis, tawanya hambar dan terdengar mengerikan. "Khawatir rencan
Read more