Fero berusaha memejamkan matanya di kamar tamu. Entah mengapa rasa kantuk seolah tidak mau menghampirinya. Hawa hangat tubuh Adista yang beberapa malam menemaninya membuatnya rindu. Walaupun ia tahu, tidak seharusnya dia bergantung pada Adista. Tidak berhasil tidur, Fero mengatur posisinya setengah duduk. Ia memakai selimut sebatas pinggang, dan mengambil ponselnya. Beberapa kali ia mencoba mengetik pesan untuk dikirimkan ke Adista, dan beberapa kali juga pesan yang sudah ia ketik itu dihapus lagi. Untuk menghibur diri, Fero membuka aplikasi game, dan berusaha fokus bermain. Ada pesan masuk, dan pesan itu datang dari Zia."Mas, kamu lagi apa di sana? Kenapa pesanku beberapa hari lalu cuma kamu baca? Kamu baik-baik saja di sana kan, Mas?"Fero keluar dari aplikasi game, dan membuka kolom percakapan dengan Zia. Ia baru ingat kalau dirinya belum membalas pesan dari wanita itu, hanya membacanya saja. "Maaf, Zia. Saya sibuk, lupa balas pesan kamu. Sekarang kerjanya full time. Saya di si
Read more