Share

Baikan

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-07-06 23:40:36

Suara derit pelan dari engsel pintu memecah keheningan yang menyelimuti ruang ICU. Adista melangkah masuk dengan ragu-ragu, ujung sepatunya nyaris tak bersuara menyentuh lantai keramik. Di atas ranjang pasien, Fero ternyata belum memejamkan matanya. Kepala pria itu menoleh pelan, menyambut kedatangan Adista dengan seulas senyum tipis.

Adista menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Jemarinya yang dingin perlahan terulur, meraih tangan Fero, lalu menggenggamnya erat-erat.

"Kamu belum tidur?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Hampir Tak Percaya

    "Sayang, sungguh, meskipun kamu sudah menyerahkan jabatan CEO ini kepadaku sejak sebelum kecelakaan itu terjadi, aku tetap saja merasa canggung duduk di kursi ini," keluh Fero, menatap istrinya yang kini duduk santai di sofa tamu ruangan tersebut."Berhenti mengeluh, Fero," sahut Adista santai sambil membalik halaman majalah bisnis di pangkuannya. "Kamu sudah membuktikan kinerjamu memimpin perusahaan ini. Para karyawan menghormatimu karena kemampuan dan ketegasanmu, bukan sekedar karena kamu suamiku. Kamu sangat layak di posisi ini. "Tapi tetap saja rasanya aneh. Aku belum terbiasa dengan ini. Aku siap, tetapi di sisi lain aku terkadang kurang percaya diri.""Itu karena kamu memang pantas mendapatkannya, Fero. Sebagai Komisaris Utama sekarang, aku merasa jauh lebih tenang melihat perusahaan ini ada di bawah kendalimu."Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu memotong percakapan ringan mereka."Masuk," panggil Fero dengan nada sedikit lebih berwibawa.Pintu terbuka, menampilkan Hana yang t

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Tidak Terima

    Suara presenter acara gosip dari smart TV berukuran enam puluh lima inci itu menggema memenuhi ruang keluarga berdesain minimalis modern. Di atas sofa, Zia duduk mematung. Matanya membelalak lebar menatap layar, kuku-kukunya yang baru saja di-manicure seakan menancap kuat pada bantal sofa."Ini tidak mungkin... ini pasti bohong!" desis Zia, suaranya bergetar menahan amarah. "Mama! Mama ke sini cepat, Ma!"Seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan dengan dress selutut bermerek dan rambut blow yang tertata rapi, muncul dari arah tangga. Wanita itu, Tari, berjalan santai sambil memegang segelas jus detox di tangannya."Ada apa sih, Zia? Teriak-teriak sampai suara kamu kedengaran ke lantai atas. Mama lagi teleponan sama teman arisan lho ini," tegur Mama Tari dengan nada manja."Mama lihat TV sekarang! Lihat siapa laki-laki yang pakai jas di sebelah perempuan itu, Ma!"Mama Tari mengernyitkan dahi, berjalan mendekat dan menyipitkan matanya."Siapa sih? Artis sinetron baru?""

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Akhirnya Ketemu

    Deru mesin kapal kargo raksasa yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok berpadu harmonis dengan riuhnya suara jepretan kamera dari puluhan awak media. Angin laut meniup rambut Adista yang hari ini tampil sangat anggun dengan setelan blazer navy yang serasi dengan gaun selututnya."Ini adalah momen bersejarah untuk kita berdua, Puan Adista," puji Hisyam di sela-sela kilatan lampu kamera, melempar senyum lebar ke arah para jurnalis."Benar, Tuan Hisyam. Ini adalah langkah awal yang luar biasa untuk mengekspansi pasar kita," balas Adista, membalas senyuman ke arah puluhan lensa yang membidik mereka secara agresif.Seorang jurnalis televisi nasional berdesakan maju, menyodorkan mikrofonnya ke depan Adista."Ibu Adista! Kerja sama Anda dengan perusahaan Malaysia ini dinilai oleh para pengamat ekonomi negara sebagai terobosan ekspor terbesar tahun ini. Apa rahasia di balik ketangguhan Anda memimpin ekspansi ini?""Tidak ada rahasia khusus, rekan-rekan. Ini semua murni berkat kerja keras ti

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Jalan-jalan Pagi

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos sela-sela dedaunan pohon rindang di taman kota. Angin berembus sejuk, membawa serta riuhnya suara kicauan burung dan tawa anak-anak yang sedang bermain.Adista mendorong kursi roda Fero dengan santai menyusuri jalan setapak berbatu sikat, menikmati udara segar akhir pekan yang sudah lama tak mereka rasakan."Adista, sungguh, ini sangat memalukan. Aku merasa seperti kakek-kakek berumur delapan puluh tahun yang sedang dijemur pagi hari oleh perawat panti jompo," gerutu Fero, mencoba menutupi sebagian wajahnya dengan sebelah tangan."Berhenti mengeluh, Kek," sahut Adista santai, justru mempercepat sedikit dorongannya. "Nikmati saja udaranya. Kamu butuh vitamin D alami supaya tulang rusukmu itu cepat menyambung lagi.""Tapi aku bisa jalan kaki, Sayang. Pelan-pelan juga tidak apa-apa.""Tidak. Dokter Andi bilang kamu tidak boleh kelelahan. Taman ini luas sekali, Fero. Kalau di tengah jalan kamu pingsan atau dadamu sesak, aku tidak kuat menggendongm

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Perayaan Kecil

    Jam menunjuk angka sebelas malam ketika mobil Adista perlahan memasuki garasi rumahnya. Suasana rumah sudah sepi. Adista setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar utama, tak sabar ingin segera membagikan kabar bahagia yang dibawanya sedari restoran.Ia memutar kenop pintu perlahan, takut membangunkan suaminya. Di saat pintu berderit terbuka, cahaya hangat dari lampu tidur di atas nakas menyambutnya. Di atas ranjang, Fero masih terbangun. Pria itu menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal sambil membaca sebuah buku tebal, kacamata bacanya bertengger pas di tulang hidungnya yang bangir.Mendengar suara pintu terbuka, Fero menurunkan bukunya dan menoleh. Senyumnya langsung mengembang."Selamat datang, istriku. Bagaimana makan malamnya?" sapa Fero lembut, bersikap sok formal, melepaskan kacamata dan meletakkan bukunya di nakas."Fero! Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah jam sebelas malam!" seru Adista, membiarkan tas mahalnya jatuh begitu saja di atas sofa kecil di sudut ruanga

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Makan Malam Hisyam-Adista

    Alunan lembut dawai biola dan denting piano mengalun syahdu memenuhi ruang privat VIP Restoran Bunga Rampai malam itu. Cahaya temaram dari lampu kristal gantung memantul indah, menciptakan nuansa elegan dan hangat. Adista melangkah masuk dengan anggun, dibalut gaun malam berwarna maroon berpotongan rapi, didampingi Hana yang tampil tak kalah profesional dengan setelan blazer hitamnya.Di meja bundar berukir klasik, seorang pria tampan dengan setelan jas abu-abu gelap khas pengusaha elit segera berdiri. Senyum menawan terkembang di wajahnya yang dihiasi rahang tegas."Selamat malam, Puan Adista. Nona Hana," sapa Hisyam dengan aksen Melayu yang lembut dan berwibawa, sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat. "Silakan duduk.""Selamat malam, Tuan Hisyam. Terima kasih sudah mengundang kami berdua malam ini. Mohon maaf jika kami membuat Anda menunggu lama," balas Adista seraya menerima uluran tangan Hisyam untuk berjabat tangan singkat."Sama sekali tidak, Puan. Saya juga baru saja t

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Malam Kita

    Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Hari Pernikahan

    Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Bersedia

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menikahlah Denganku

    "Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status