登入Angin malam berembus cukup kencang, meniup dedaunan dari tanaman hias yang berjajar rapi di balkon. Dari lantai atas rumah mewah tersebut, gemerlap lampu kota Jakarta terlihat seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. sayangnya pemandangan memukau itu tampaknya sama sekali tidak menarik minat Fero. Pria bertubuh tegap itu berdiri mematung sambil menyandarkan kedua lengannya di pagar besi balkon, tatapannya kosong menerawang menembus pekatnya malam.Suara derit pelan pintu kaca balkon yang digeser menyadarkan Fero dari lamunannya. Adista melangkah keluar dengan piyama satin yang lembut, membawa sebuah nampan kayu berisi dua cangkir porselen yang mengepulkan asap tipis. Ia meletakkan cangkir tersebut di atas meja rotan kecil di sudut balkon, lalu berjalan mendekati suaminya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adista menyusupkan kedua lengannya ke pinggang Fero, memeluk pria itu dari belakang dengan sangat erat. Ia menyandarkan pipinya ke punggung Fero yang lebar dan hangat."Kenapa
Suasana lobi yang bising oleh bisik-bisik dan tatapan penasaran puluhan karyawan membuat Adista segera mengambil alih kendali. Ia tidak ingin momen pribadi dan sangat emosional suaminya ini menjadi tontonan publik lebih lama lagi."Maaf, Tuan Hardian," sela Adista dengan suara lembut. "Lobi ini terlalu terbuka. Sangat tidak nyaman untuk membicarakan hal sepribadi ini di tengah banyak orang."Hardian menyeka air matanya, menatap Adista dengan sisa-sisa isak tangisnya."Kau... kau adalah istri dari cucuku?""Benar, Kek," jawab Adista, sengaja menggunakan panggilan hormat untuk menghargai pria tua di hadapannya. "Saya Adista, istri Fero. Sebagai cucu menantu Kakek, saya ingin mengundang Kakek naik ke ruangan eksklusif kami di lantai atas. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini di sana, di tempat yang lebih tertutup dan nyaman."Hardian mengangguk pelan, raut wajahnya melembut melihat sikap anggun Adista."Terima kasih, Nak Adista."Adista menoleh dengan cepat ke arah asistennya yang masi
"Sayang, sungguh, meskipun kamu sudah menyerahkan jabatan CEO ini kepadaku sejak sebelum kecelakaan itu terjadi, aku tetap saja merasa canggung duduk di kursi ini," keluh Fero, menatap istrinya yang kini duduk santai di sofa tamu ruangan tersebut."Berhenti mengeluh, Fero," sahut Adista santai sambil membalik halaman majalah bisnis di pangkuannya. "Kamu sudah membuktikan kinerjamu memimpin perusahaan ini. Para karyawan menghormatimu karena kemampuan dan ketegasanmu, bukan sekedar karena kamu suamiku. Kamu sangat layak di posisi ini. "Tapi tetap saja rasanya aneh. Aku belum terbiasa dengan ini. Aku siap, tetapi di sisi lain aku terkadang kurang percaya diri.""Itu karena kamu memang pantas mendapatkannya, Fero. Sebagai Komisaris Utama sekarang, aku merasa jauh lebih tenang melihat perusahaan ini ada di bawah kendalimu."Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu memotong percakapan ringan mereka."Masuk," panggil Fero dengan nada sedikit lebih berwibawa.Pintu terbuka, menampilkan Hana yang t
Suara presenter acara gosip dari smart TV berukuran enam puluh lima inci itu menggema memenuhi ruang keluarga berdesain minimalis modern. Di atas sofa, Zia duduk mematung. Matanya membelalak lebar menatap layar, kuku-kukunya yang baru saja di-manicure seakan menancap kuat pada bantal sofa."Ini tidak mungkin... ini pasti bohong!" desis Zia, suaranya bergetar menahan amarah. "Mama! Mama ke sini cepat, Ma!"Seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan dengan dress selutut bermerek dan rambut blow yang tertata rapi, muncul dari arah tangga. Wanita itu, Tari, berjalan santai sambil memegang segelas jus detox di tangannya."Ada apa sih, Zia? Teriak-teriak sampai suara kamu kedengaran ke lantai atas. Mama lagi teleponan sama teman arisan lho ini," tegur Mama Tari dengan nada manja."Mama lihat TV sekarang! Lihat siapa laki-laki yang pakai jas di sebelah perempuan itu, Ma!"Mama Tari mengernyitkan dahi, berjalan mendekat dan menyipitkan matanya."Siapa sih? Artis sinetron baru?""
Deru mesin kapal kargo raksasa yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok berpadu harmonis dengan riuhnya suara jepretan kamera dari puluhan awak media. Angin laut meniup rambut Adista yang hari ini tampil sangat anggun dengan setelan blazer navy yang serasi dengan gaun selututnya."Ini adalah momen bersejarah untuk kita berdua, Puan Adista," puji Hisyam di sela-sela kilatan lampu kamera, melempar senyum lebar ke arah para jurnalis."Benar, Tuan Hisyam. Ini adalah langkah awal yang luar biasa untuk mengekspansi pasar kita," balas Adista, membalas senyuman ke arah puluhan lensa yang membidik mereka secara agresif.Seorang jurnalis televisi nasional berdesakan maju, menyodorkan mikrofonnya ke depan Adista."Ibu Adista! Kerja sama Anda dengan perusahaan Malaysia ini dinilai oleh para pengamat ekonomi negara sebagai terobosan ekspor terbesar tahun ini. Apa rahasia di balik ketangguhan Anda memimpin ekspansi ini?""Tidak ada rahasia khusus, rekan-rekan. Ini semua murni berkat kerja keras ti
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos sela-sela dedaunan pohon rindang di taman kota. Angin berembus sejuk, membawa serta riuhnya suara kicauan burung dan tawa anak-anak yang sedang bermain.Adista mendorong kursi roda Fero dengan santai menyusuri jalan setapak berbatu sikat, menikmati udara segar akhir pekan yang sudah lama tak mereka rasakan."Adista, sungguh, ini sangat memalukan. Aku merasa seperti kakek-kakek berumur delapan puluh tahun yang sedang dijemur pagi hari oleh perawat panti jompo," gerutu Fero, mencoba menutupi sebagian wajahnya dengan sebelah tangan."Berhenti mengeluh, Kek," sahut Adista santai, justru mempercepat sedikit dorongannya. "Nikmati saja udaranya. Kamu butuh vitamin D alami supaya tulang rusukmu itu cepat menyambung lagi.""Tapi aku bisa jalan kaki, Sayang. Pelan-pelan juga tidak apa-apa.""Tidak. Dokter Andi bilang kamu tidak boleh kelelahan. Taman ini luas sekali, Fero. Kalau di tengah jalan kamu pingsan atau dadamu sesak, aku tidak kuat menggendongm
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah
Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb
Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu
"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah







