Bau amis darah dari pisau perak di kotak beludru itu masih mengusik hidungku, bercampur dengan aroma lili yang memuakkan di Kamar 1202.Aku menatap pelayan di depanku—pria yang memiliki rahang, mata, dan bekas luka yang identik denganku. Dunia seakan berputar. Apakah ini efek obat bius Siska, ataukah Mery telah menciptakan klon diriku untuk menjadikanku kambing hitam yang sempurna?"Siapa kau?" desisku, tanganku meraih botol anggur di nampan perak itu, siap menjadikannya senjata.Pelayan itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah masuk, menutup pintu dengan tumitnya, lalu melakukan gerakan silat pancer yang hanya diajarkan Abah Usman kepada kami berdua di bawah pohon bambu belasan tahun lalu. Gerakan itu begitu cair, begitu akrab."Kukira kamu cuma mimpi," suaraku pecah, hampir tak terdengar di antara deru jantung yang menghantam rusuk.Pria itu menatapku tajam. Ada kilat kemarahan dan perlindungan di matanya yang jauh lebih liar dariku. "Tidak... aku sungguhan," bisiknya. S
Terakhir Diperbarui : 2026-05-11 Baca selengkapnya