Jip tua itu menderu, membelah kabut pagi yang merayap rendah di atas aspal jalanan perbukitan. Bau bensin tua dan karet terbakar memenuhi kabin, bercampur dengan aroma anyir yang semakin pekat. Di sampingku, sosok yang menyerupai Kenzo bersandar pada pintu, napasnya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu—berat, tersendat, dan basah.Aku mencengkeram kemudi hingga buku jariku memutih. "Kau bohong," desisku, suaraku parau oleh amarah yang beradu dengan penyangkalan. "Kenzo tidak mungkin mati. Kita baru saja keluar dari neraka itu bersama-sama !"Pria itu terbatuk, menyemburkan noda merah ke dasbor jip yang berdebu. Tangan gemetarnya perlahan melepas alat pengubah pita suara yang menempel di lehernya seperti lintah karet. Wajahnya—meski sangat mirip karena sentuhan ahli prostetik Grand Mahakam—kini tampak layu. Kulitnya pucat keabu-abuan, kontras dengan darah yang terus merembes dari balik kemeja putihnya yang kini hancur."Namaku... Arya," bisiknya dengan suara aslinya yang se
Terakhir Diperbarui : 2026-05-14 Baca selengkapnya