Titik merah itu diam. Dingin dan presisi, ia bergetar halus di atas kulit dada Mery yang masih basah, tepat di atas denyut jantungnya yang—anehnya—terasa sangat tenang di bawah telapak tanganku. Bau debu kayu tua dan pengapnya gubuk ini seolah tersedot habis, menyisakan kesunyian yang mencekik.Aku bisa merasakan otot-otot tubuh Mery mengeras, bukan karena takut, tapi seperti seekor macan tutul yang sedang menghitung jarak untuk menerjang."Jangan bernapas terlalu keras," bisikku, nyaris tak terdengar, tepat di ceruk lehernya yang beraroma sisa Black Opium dan garam.Di luar, suara kerikil yang terinjak sepatu bot bot berat terdengar semakin jelas. Krek. Krek. Iramanya lambat, penuh percaya diri. Seseorang di luar sana sedang menikmati proses perburuan ini. Aku melirik ke arah sudut gubuk, menemukan sebuah linggis berkarat yang tergeletak di antara tumpukan ban bekas. Tanganku merayap perlahan, menghindari gesekan sekecil apa pun dengan lantai tanah yang kering.Brak !Pintu kayu ya
Terakhir Diperbarui : 2026-05-07 Baca selengkapnya